Thursday, November 19, 2009

Tokoh Agama Berpola Pikir Sara

Mengapa saya memposting dengan judul ini?
Karena kenyataan banyak tokoh-tokoh agama miliki pola pikir yang bernuansa sara. banyak tokoh-tokoh agama yang sudah terkenal, di aras nasional, tetapi gampang terpengaruh, terprovokasi, sehingga memprovokasi pula. Ketika lantang berseru-seru: "si Anu, atau Negara Anu berstandard ganda!" dirinya juga berstandard ganda.
Lihat ketika mereka meminta memblokir Faith Fredoom, karena melecehkan agama mereka, mengapa Answering Faith Fredoom tidak diminta di blokir, karena juga melecehkan agama lain, atau Swara Muslim yang juga melecehkan agama lain, tidak diminta di blokir. ini berarti sudah berpola pikir sara, artinya ketika ada golongan lain yang melecehkan agamanya, segera bersikap marah, dan menolak, dll, tetapi ketika ada golongannya yang melakukan pelecehan pada agama lain di biarkan saja. contoh lain adalah mereka menuding orang-orang Kristen melakukan Kristenisasi, dan orang Kristen tidak boleh melakukan penginjilan, tetapi mereka melakukan dakwah yang berarti juga islamisasi.ini standard ganda. orang lain tidak boleh melakukan tetapi mereka boleh bebas melakukan.
Yang menarik pagi-pagi baca berita di Yahoo, MUI lokal daerah tertentu menyerukan untuk tidak menonton film 2012, dan MUI Pusat menyuruh menyensor adegan Masjid roboh, karena dianggap pelecehan terhadap agama, dan menurutnya bernuansa Sara. Nah pendapatnya (Jika Benar Pendapatnya) karena ada masjid yang roboh itu ia katakan bernuansa sara, tetapi gereja vatikan yang roboh, dan tokoh-tokoh agama-agama lain yang yang bergelimpangan, tidak disebut itu juga bernuansa sara. berarti Ia berpola pokir sara. lucu juga pagi-pagi udah denger berita yang aneh begini.
Seruan saya pada tokoh-tokoh agama manapun, Isu sara itu seringkali justru dari Atas, orang-orang kecil sebenarnya gak mempermasalahkan itu. hanya sering mereka sebagai korban provokasi. yang meniupkan angin sara sesungguhnya tokoh-tokoh panutan. jika panutannya seperti itu bagaimana yang menganut?

Wednesday, November 4, 2009

PRO-KONTRA NATAL

Hari raya terbesar kristiani yang dirayakan paling meriah masa-masa sekarang ini adalah Natal, yaitu hari peringatan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah lahir ke dunia. Terkadang pesta perayaan hari tersebut dilaksanakan dengan meriah oleh bukan saja orang-orang Kristen, tetapi juga orang-orang non Kristen. Negara Malaysia dan Singapura misalnya yang mayoritas penduduknya tidak beragama Kristen mereka menjadikan hari Natal sebagai sebuah hari yang dirayakan secara besar-besaran, karena menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Sementara itu, disisi lain muncul di dalam tubuh kekristenan penolakan terhadap perayaan Natal. Ada dua alasan utama sebagai dasar penolakan mereka. Yaitu:
Yang pertama: perayaan Natal tidak ada dalam Alkitab dan Yesus sendiri tidak pernah memerintahkan agar merayakan hari kelahiran-Nya.
Yang kedua Dengan merayakan hari Natal yang telah ditetapkan pada tanggal 25 Desember bagi mereka sama dengan merayakan penyembahan kepada dewa matahari, karena tanggal 25 Desember sesungguhnya bukan hari kelahiran Yesus, tetapi hari perayaan kelahiran matahari yang dipuja dengan ritual kafir oleh penduduk kota Roma kuno. Ketika Kekaisaran Romawi berhasil dikristenkan, perayaan penyembahan bagi dewa matahari itu diubah untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus Kristus.
Melalui BMM ini penulis mencoba memberikan pendapatnya untuk dikaji bersama.
Jika alasan pertama yaitu tidak tertulis dalam Alkitab dan tidak disuruh oleh Tuhan Yesus maka tidak boleh dilakukan, maka seharusnya setiap hal yang tidak tertulis di Alkitab dan tidak disuruh Yesus juga tidak boleh dilakukan. Misalnya, Yesus tidak pernah secara langsung menyuruh untuk membangun gedung gereja, demikian juga para rasul tidak pernah menulis untuk umat Kristen membangun gedung gereja, jadi masyarakat Kristen tidak boleh membangun gedung gereja. Yang lebih parah lagi Yesus tidak pernah menyuruh untuk mengkanonkan Alkitab demikian juga para rasul, maka kanon Alkitab seharusnya tidak boleh diterima. Rupa-rupanya pembangunan gedung gereja sebagai tempat ibadah merupakan hasil pengembangan budaya yang baik dari gereja, berdasarkan kebutuhan, demikian juga pengkanonan Alkitab. Jadi dengan dasar pemikiran ini, alasan yang pertama tidak memenuhi criteria sebagai dasar penolakan terhadap peryaan Natal
Alasan yang ke dua, yaitu tanggal 25 Desember adalah hari perayaan dewa Matahari, maka jika merayakan Natal sama dengan merayakan dewa matahari penulis menjawab demikian. Ketika kita dipanggil sebagai orang Kristen, kita tidak serta merta dipisahkan dari dunia ini. Justru kita diutus kedunia ini untuk mewarnai dunia dengan pemikiran dan budaya kristiani. Kita tidak dituntut untuk menghancurkan budaya, tetapi memperbaharui budaya.
Budaya bukanlah dosa, juga bukan kudus, tetapi bersifat netral pada hakikatnya. Budaya adalah hasil berpikir dan berikhtiar manusia, yang kemudian menjadi suatu pola kebiasaan yang dilakukan terus menerus. Kemampuan manusia untuk berpikir dan berikhtiar adalah anugerah Tuhan. Hanya saja budaya itu telah tercemar dosa, kita dipanggil untuk memperbaharui budaya tersebut  dengan pemikiran kristeni. Contoh praktis yang juga terdapat dalam Alkitab adalah hari Raya Purim. Hari raya ini tidak disebutkan dalam kitab Taurat, tetapi hari raya ini muncul akibat budi daya (kebudayaan) orang-orang Yahudi yang mempertahankan eksistensinya dari genocide yang dirancang oleh Haman(baca Kitab ester).
Kesimpulan dari hal ini, manusia dalam menjalani kehidupan dituntut berpikir dan berusaha. Hasil dari ikhtiar manusia itu menjadi budaya. Demikian juga dengan gereja. Gereja menghasilkan budaya, walaupun tidak semua budaya gereja tetap relevan sepanjang masa, tetapi budaya yang baik perlu dipertahankan. Natal adalah budaya yang baik, dimana merupakan wahana untuk kembali mengingat ketulusan Yesus, kerelaan Yesus yang menderita bagi keselamatan manusia. Peringatan Natal juga merupakan salah satu wahana untuk bersaksi bagi Tuhan.
Kesimpulan dari hal ini adalah meskipun ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan momen Natal untuk sesuatu yang tidak bernilai kekal, tetapi peringatan Natal secara hakikinya memiliki faedah keimanan yaitu suatu momen bagi kita umat Kristiani untuk mengingat Juru Selamat kita. Mungkin ada orang yang berkata “saya setiap hari mengingat akan ketulusan Yesus yang rela datang ke dunia dengan misi penyelamatan kita.” penulis setuju dengan hal ini, tetapi mengingat manusia terbatas, terkadang alpa, maka diperlukan alat bantu untuk mengingat kembali. Perlu ada suatu momen khusus untuk menolong kita kembali menghayati secara lebih dalam Kristus Tuhan kita.
Namun demikian, meskipun penulis setuju dengan perayaan Natal, penulis juga berkesimpulan adalah tidak bijaksana jika Natal menonjolkan budaya konsumerisme dan hedonisme, apalagi ditengah-tengah masyarakat bangsa kita yang sedang prihatin.


Monday, November 2, 2009

STT SETIA

 
STT SETIA 
Nasibmu Kini
 
Setelah terkatung-katung atas ketidakadilan di negeri sendiri. oleh karena ada segelintir manusia berjubah agama, sehingga merasa berhak memberangus martabat manusia lain, yang berbeda keyakinan.  dan anehnya tidak ada aparat dari yang terkecil hingga tertinggi yang memperjuangkannya, dari RT hingga Presiden. tidak ada sedikitpun janji-janji kampanye yang menyebutkan kata SETIA, seakan-akan SETIA tidak ada artinya lagi di bumi ini. 
apa kejahatan yang dilakukan SETIA sehingga tempatnya diberi garis Polisi. bukankan mereka yang menyerang yang semestinya terusir dari bumi pertiwi. Apakah negeri ini hanya milik sekelompok agama? apakah hanya 1 agama yang boleh menjadi tuan atas negeri ini, sementara agama-agama yang lain harus tertunduk bersimpuh memohon belas kasihan tuan penguasa?
Apa begitu besar dosa SETIA sampai ia harus terusir dari tanah miliknya sendiri yang sah dibelinya dengan uang yang bukan curian atau hasil korupsi?
bagaimana perasaan Anda jika itu terjadi pada Saudara Anda?
bagaaimana perasaan Anda jika itu terjadi pada agama Anda? 
sementara penjahat yang sesungguhnya yang memaksakan kehendak dengan kekerasan berjubah agama melenggang lenggok dengan pongahnya karena tidak ada kuasa yang sanggup untuk menjamahnya. tidak ada aparat yang cukup bergigi untuk berani menyentuh jubah yang maha suci yang mereka tiap hari puja dan puji. ah ya bukankah SETIA berdekatan dengan Markas angkatan bersenjata? yang tugasnya melindungi warga? pada kemana mereka? 
"STT SETIA sudah meresahkan warga" kata mereka. tetapi lihat bung, dulu tempat itu adalah tempat sepi yang tidak ada orang yang meminati. STT SETIA lah yang menggeliatkan ekonomi, sehingga dari desa yang sepi menjadi ramai dikunjungi.  bukankah STT SETIA lebih dahulu ada disana dari pada sebagian besar warga?
lalu siapa yang mengganggu siapa?
OK SETIA mau mengalah, dan berniat untuk pindah. tetapi hingga kini janji-janji tidak juga kunjung ditepati. dengan mulut manis membujuk agar SETIA mengalah dan pindah. nanti akan diganti dengan tempat yang lebih baik katanya, tetapi mana? janji itu hanya angin lalu berbau busuk yang segera tersebar hilang tertiup angin. 
 

Monday, October 26, 2009

Injil Barnabas

Bukti-bukti Kepalsuan Injil Barnabas
Sebuah buku yang disebut sebagai Injil Barnabas sering digunakan sebagai referensi oleh beberapa orang untuk menyerang kekristenan. Terutama beberapa golongan muslim menganggap Injil ini lebih otentik ketimbang kitab Injil yang diterima oleh gereja. Alasan beberapa golongan ini dikarenakan isi di dalamnya sangat mendukung Alquran. Akan tetapi tidak semua muslim sepakat dalam hal ini, karena banyak juga golongan muslim yang menolak keaslian injil ini, karena di dalamnya ada juga bagian-bagian yang bertentangan dengan Alquran. Berikut ini bukti-bukti kepalsuan Injil Barnabas.

1.      Kontradiksi mengenai gelar Mesias.
Pada bagian pendahuluan tertulis demikian:
INJIL YANG BENAR TENTANG YESUS YANG BERGELAR KRISTUS, SEORANG NABI BARU YANG DIUTUS ALLAH KE DUNIA: MENURUT URAIAN BARNABAS, RASULNYA.
Barnabas, rasul Yesus orang Nazaret yang bergelar Kristus, beramanat kepada segenap umat, yang berbenah di persada bumi menginginkan kedamaian serta penghiburan.

Pada bagian in menyebutkan secara jelas bahwa Yesus bergelar Kristus yang merupakan terjemahan bahasa Yunani dari kata Mesias bahasa Arami, yang artinya Yang diurapi. Namun kemudian gelar ini  disangkalnya sendiri di pasal 96. "Demi Allah, pada diri-Nya, jiwaku berdiri, bahwa Aku bukanlah Mesias itu"
tampak jelas bahwa penulis Injil Barnabas ini tidak mengenal bahasa Yunani maupun Ibrani (arami). Kristus adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani/arami Mesias (Mesiakh). Sungguh sangat aneh jika Barnabas mengakui Yesus adalah Kristus, tetapi menolak Yesus adalah Mesias. Apalagi kedua bahasa ini merupakan bahasa percakapan sehari-hari yang digunakan di zaman Yesus.

2.      Kontradiksi dalam hal sumpah.
Dalam tradisi Yahudi, terlebih lagi dalam tradisi imam, seseorang tidak akan mudah bersumpah mengatas namakan Allah. Pada masa itu ada ketakutan yang luar biasa dalam diri orang Yahudi untuk mengucapkan kata Allah, apa lagi bersumpah. Dalam sepanjang kitab-kitab PB, tidak ada sumpah mengenai ajaran seperti ini. Demikian juga dalam kitab-kitab apokripha, model sumpah seperti ini belum dikenal sama sekali. Ayat sumpah ini malahan mirip dengan modelnya nabi Muhamad bersumpah dalam mengajarkan agamanya. Oleh karena itu, dapat disimpulka bahwa penulis ini lebih dipengaruhi budaya nabi Muhamad daripada budaya yang berkembang pada masa itu.

3.      Kesalahan dalam Tradisi Yahudi Pasal 152
"Injil" ini menceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke Bait Allah di Yerusalem dan para militer Romawi datang masuk ke rumah ibadah itu untuk mengganggu Dia.
agama Yahudi melarang orang kafir untuk masuk ke bait Allah. Termasuk orang-orang Romawi. Untuk menjaga agar tidak terjadi pemberontakan terhadap Romawi, maka orang-orang Romawi menghargai kebijakan ini, sehingga mereka tidak akan masuk ke dalam Bait Allah. Di Bait Allah memiliki penjaga tersendiri yang disebut dengan penjaga Bait Allah. Jadi kalau sampai ada orang romawi masuk bait Allah, apalagi sampai menggangu ibadahnya orang Yahudi, bisa terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap Romawi. Hal ini terjadi terhadap kekuasaan Yunani era wangsa Makabe. Tentara Romawi masuk, dan menghancurkan bait Allah, kemudian mempersembahkan persembahan berhala baru terjadi pada tahun 70 masehi, 40 tahun setelah Yesus disalib. Peristiwa ini terjadi setelah orang-orang  Yahudi yang melancarkan pemberotakan lebih dahulu. Penghancuran bait Allah orlah tentara Romawi di bawah Jenderal Titus ini untuk menghilangkan rasa symbol Nasionalisme Yahudi, sehingga dikemudian hari mereka tidak memberontak lagi. Peristiwa ini jauh-jauh hari sudah dinubuatkan oleh kitab Injil.
Hal ini membuktikan bahwa penulis Injil ini tidak tahu sejarah, dan tidak mengenal peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus.


4.      Kesalahan dalam Tradisi Yahudi dan Sejarah. pasal 144-150.
Pasal ini menceritakan orang farisi hidup membiara, tidak kawin, ayat ini juga mengatakan bahwa orang farisi sudah ada sejak zaman nabi elia, dan berjumlah 17.000. Rupa-rupanya disamping tidak menguasai sejarah Yahudi penulis Injil Barnabas juga tidak menguasai Alkitab. Jadi kemungkinan penulis Barnabas hanya mengenal sedikit-sedikit tentang kekristenan.
Fakta sejarah mengatakan bahwa orang farisi tidak hidup membiara, bahkan untuk menjadi orang farisi dia harus kawin. Golongan Yahudi yang hidup mirip dengan kehidupan biara adalah orang-orang eseni. Rupa-rupanya penulis Injil Barnabas ini terkecoh antara orang Farisi dengan orang Esseni, jika Injil Barnabas benar ada di abad 1 dan ditulis oleh Rasul Barnabas, maka tidak mungkin ia akan terkecoh seperti ini, karena Barnabas adalah orang Lewi.
Dalam hubungannya dengan Elia, rupa-rupanya ia dikacaukan dengan 7000 orang-orang yang setia terhadap Allah dan tidak mau menyembah Baal. 7000 orang ini adalah orang yang secara tersembunyi tetap memuja Allah Israel.Jumlahnya bukan 17000, tetapi 7000. sedangkan Farisi adalah sekte Yahudi yang muncul pada abad kedua sebelum masehi. Yaitu sekitar 200 tahun setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan. Sebagai reaksi atas kompromi yang banyak dikerjakan oleh orang Israel lain dalam kekuasaan Yunani. Pada masa itu tidak ada nabi, karena Tuhan tidak lagi menyampaikan firmanNya. Sedangkan Elia hidup pada abad 8 sebelum masehi. Sehingga antara Elia dan farisi terpaut jarak 6 abad.
Tulisan ini merupakan bukti betapa simpang siurnya data penulis Injil Barnabas. Ia tidak tahu sejarah Yahudi sama sekali.

5.      Kesalahan Sejarah. Pasal 3
Pasal 3 menyebutkan kelahiran Yesus adalah pada masa pemerintahan Pontius Pilatus yang menjabat sebagai wali negeri atau gubernur Yudea.
Fakta sejarah mengatakan bahwa, Pilatus menjadi wali negeri pada tahun 29 Masehi. Sementara Yudea menjadi propinsi tersendiri pada abad 6 masehi. Yesus lahir pada abad 4 SM. Yudea masih di bawah propinsi Siria dengan gubernurnya Kirinius sejarah membuktikan bahwa memang benar sekitar tahun itu ia menjadi wali negeri Siria. Membuktikan bahwa penulis Injl Barnabas tidak mengenal peristiwa sejarah pada zaman Yesus, dan tidak mengenal Perjanjian Baru, sedangkan Injil secara akurat menjelskan fakta-fakta sejarah.Pilatus tidak berkuasa pada zaman Yesus lahir, melainkan zaman Yesus disalibkan.

6.      Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 20.
Pasal ini menyebutkan: “Maka pergilah Yesus ke laut Galilea, dan turunlah ia ke dalam sebuah perahu untuk berlayar ke Nazaret, kotanya (Yesus went to the sea of Galilee and having embarked in a ship sailed to his city of Nazareth); Dalam pada itu terjadilah taufan besar di laut sehingga nyaris menenggelamkan perahu tersebut.”

Ayat ini merupakan lelucon pemalsuan yang sangat ceroboh. Nazareth adalah dataran tinggi, sehingga tidak ada lautnya. Jadi tidak mungkin naik perahu ke Nazareth. Sedangkan Danau Galilea, jaraknya 20 KM dengan Nazaret. Tidak mungkin Murid Yesus yang asli tidak tahu hal ini. Oleh karena itu penulis Injil Barnabas dipastikan tidak tahu menahu keadaan geografis Palestina.

7.      Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 21 :
Pasal ini menyebutkan: ”Mendakilah Yesus ke Kapernaum, seraya pula ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kubur-kubur itu, kerasukan setan dan tidak ada satu rantai pun yang mengikatnya karena parahnya sehingga menyebabkan bahaya bagi banyak orang. Maka menjeritlah Setan-setan dari mulutnya, katanya :"Ya Kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita ?"

Paswal ini adalah kelanjutan dari pasal sebelumnya. Jadi ayat ini mengisahkan bahwa setelah berlayar dari danau galilea ke Nazareth, kemudian Yesus mendaki ke Kapernaum. Faktanya Kapernaum adalah kota pantai yang lebih rendah dari nazareht. Mestinya turunlah Yesus ke kapernaum bukan mendaki. Danau galilea juga sering disebut dengan danau kapernaum. Ini artinya penulis Injil Barnabas tidak mengetahui keadaan geografis Israel. Tidak mungkin rasul Yesus yang hilir mudik di kapernaum dan nasaret tidak tahu hal ini.

8.      Injil Barnabas berisi dongeng-dongeng yang tidak masuk akal.
Dongeng itu antara lain manusia memiliki puser itu dikarenakan diludahi setan. Ada sembilan tingkatan langit, dan Yesus yang berdoa agar setan diampuni dosanya. Ini nampaknya sejajar dengan dongeng dalam Islam yang mengatakan bahwa buah kuldi yang dimakan Adam berhenti ditenggorokan maka menjadi jakun, sedang yang dimakan Hawa berhenti di dada, maka menjadi payudara.

9.      Kekacauan antara sejarah Yahudi dengan sejarah gereja mengenai Tahun Yobel.
Pasal 82 menyebutkan: Sesudah sembahyang malam murid-murid datang mendekat kepada Yesus, kemudian Yeus bersabda: "Malam ini tepat waktunya bagi Messias, Pesuruh Allah itu, akan menjadikan tahun Yobel dirayakan tiap-tiap tahun, yang sekarang ini jatuh pada setiap 100 tahun" ("This night shall be the time of Messiah, messenger of God, the Jubilee every year that now cometh hundredyear")
Tahun Yobel adalah hari perayaan ibrani setiap 50 tahun sekali. Yaitu suatu tahun dimana terjadi pembebasan para budak, tahun pembebasan tanah yang digadaikan.
Penetapan tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun sekali merupakan penetapan yang baru ada pada masa Paus Bonifacius VIII (1300), Tetapi setelah itu mengalami beberapa penetapan tahun yang berbeda, mulai dari Paus Clement VI (1340) menetapkan setiap 50 tahun sekali, dan Paus Paulus II (1470) menetapkan setiap 25 tahun sekali, barulah Paus Sixtus V (1585-1590) kembali menetapkan tahun Yobel setiap 100 tahun sekali, sekaligus memperingati pengangkatannya sebagai paus.


10.  Kontradiksi Injil Barnabas dengan Alquran.
a.       Barnabas menyebut dirinya rasul Yesus Kristus. Dalam tradisi Islam, rasul juga adalah nabi, tetapi nabi belum tentu rasul. Manusia tidak memiliki rasul, tetapi hanya Allah yang memiliki rasul. Oleh karena itu, ketika Barnabas mengaku bahwa ia rasul Kristus, menandakan bahwa hal itu bertentangan dengan Alquran. Padahal setiap orang muslim percaya bahwa ajaran Yesus yang asli (Injil) tidak bertentangan dengan Alquran. Ini berarti penulis kitab Barnabas ini adalah orang Islam yang baru saja bertobat, sehingga tidak mengenal betul ajaran islam.
b.      Barnabas menyebutkan bahwa tingkat langit ada sembilan. Sementara Alquran menyebutkan bahwa tingkat langit ada tujuh
c.       Kitab Barnabas menyetakan bahwa Mariam tidak mengalami sakit bersalin ketika melahirkan Yesus, sementara Alquran mengatakan bahwa Mariam mengalami sakti bersalin yang luar biasa ketika akan melahirkan Isa.
d.      Quran mengatakan mengakui gelar Isa sebagai Almasih (Mesias), sedangkan Injil Barnabas tidak mengakui Isa sebagai Mesias, malahan mengatakan bahwa Muhamad itulah Mesias.
e.       Injil Barnabas menolak poligami (pasal 116) sedangkan Alquran menerima poligami.
f.       Injil Barnabas pasal 137 mengakui adanya api penyucian dimana orang yang dineraka jika telah memenuhi siksaan akan masuk kesurga sedangkan Alquran menolak adanya api penyucian. Orang yang sudah dineraka tidak akan mendapatkan pengampunan.
Ole karena itu umat islam yang mengetahui benar tentang Injil Barnabas menolak keaslian Injil ini. Seperti dikutip dalam ensiklopedi Islam  oleh Herlianto Yayasan Bina Awam
"Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan .... Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu." Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: "Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan "al-Masi'ah" yang Islam tidak membenarkannya. Selain ia merupakan pemikiran yang asing dalam sejarah kekeramatan, gaya bahasanya cenderung mengejek Injil, sebagaimana tulisan-tulisan Baha' al-Allah terhadap al-Quran." (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.53).


Kesimpulan
Penulis Injil Barnabas sesungguhnya tidak mengenal betul kekristenan maupun Islam yang sesungguhnya. Meskipun kemungkinan besar dapat dipastikan bahwa ia orang Islam, tetapi ia tidak mengerti ajaran Islam yang sesungguhnya.
Penulis Injil Barnabas tidak hidup pada zaman Yesus, dan bukan murid Yesus yang tinggal di Palestina, hal itu terbukti dia tidak mengenal geografi palestina, dan sejarah Palestina pada masa itu.
Menerima Injil Barnabas sebagai ajaran Yesus yang sesungguhnya berarti bukan saja menolak kebenaran Kitab Injil Perjanjian Baru, tetapi juga menolak kebenaran Alquran. Hal ini dibuktikan bahwa banyak ulama-ulama dan cerdik-cendekia muslim yang menolak Injil Barnabas.


Sumber-sumber:

Injil Barnabas Suatu Kesaksian palsu, A.Q Jazin Libanon.
Injil Barnabas, Herlianto, M.Th. Yayasan Bina Awam
Injil Barnabas, Bambang Nursena.

Sunday, October 11, 2009


Miyabi 
Bebarapa tokoh agama dan tokoh DPR beramai-ramai menentang kedatangan Miyabi ke Indonesia. Hal ini dikarenakan Miyabi adalah bintang film Porno dari Jepang. Meskipun ke Indonesia dia tidak main film porno, tetapi images/stigma yang dibawa takutnya mencemari moral bangsa.
Secara teoritis saya sangat setuju dengan hal itu. Kita mesti menolak Miyabi main film di Indonesia, karena dengan demikian akan meningkatkan popularitasnya, film-filmnya yang bisa dilihat di Internet, bisa-bisa banyak yang melihatnya. Hanya saja cara-caranya para tokoh agama, alim ulama, dan wakil rakyat  ini yang tidak saya setuju. Mereka dengan mengerahkan masa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, karena akan merusak moral bangsa. Bukankah dengan cara itu Miyabi semakin popular. Kita bisa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, tapi tidak bisa menolak Miyabi datang kerumah-rumah orang Indonesia lewat Internet, dan HP para remaja. Dengan kehebohan penolakkan itu banyak yang tidak tahu menjadi tahu. Yang tidak tertarik menjadi tertarik. Saya yang sering internetan saja, tidak tahu menahu tentang Miyabi, jadinya tahu, dan iseng-iseng mencari nama Miyabi di Google Search.
Tidak bisakah penolakan itu dengan cara diplomasi atau negosiasi. Tidak adakah ahli diplomasi atau negosiasi dikalangan ulama sehingga harus mengerahkan masa? Tidak adakah cara lain selain mengerahkan masa? Saya pikir cara berpolitik yang baik adalah mengedepankan perundingan, negosiasi, pencerahan, dari pada politik Infantilisme, yaitu pengerahan masa. Maaf bukan berarti saya tidak menghormati mereka sebagai tokoh agama dan panutan rakyat. Saya setuju dengan sikap mereka akan penolakan kedatangan Miyabi ke Indonesia untuk main film, tetapi cara-cara pengerahan masa yang menghebohkan yang biasanya dicemari dengan sedikit tindak kekerasan, justru menyebabkan nama Miyabi makin melejit. Saya jadi kuatir anak-anak remaja dan SD yang tidak tahu apa-apa malah membuka-buka situs Miyabi, karena di populerkan oleh para tokoh agama. Setelah kejadian itu, Siapa sekarang yang dapat mencegah kedatangan Miyabi ke Indonesia, bahkan bertamu dirumah-rumah, warnet-warnet, atau HP genggam anak-anak remaja?
Keberhasilan dan Kegagalan Pendidikan Kristen
Berbicara tentang keberhasilan atau kegagalan pendidikan Kristen seringkali dikaitkan dengan keberhasilan akademis peserta didik. Artinya jika peserta didik berhasil lulus 100% atau sekolah-sekolah Kristen tetap eksis dan diminati banyak orang maka sekolah Kristen dianggap berhasil. Atau memiliki banyak alumni yang berhasil menjadi orang yang “berhasil” sekolah itu dikatakan berhasil. Konsep berpikir ini sesungguhnya salah, tetapi sudah umum diterima oleh masyrakat Kristen, dan pengelola pendidikan Kristen. Mereka cukup merasa berbangga hati jika peserta didik sukses secara akademik, mereka merasa berhasil mendidik karena output yang mereka hasilkan “berkualitas.”
Pengukuran keberhasilan pendidikan Kristen tidak pernah dikaitkan dengan visi pendirian pendidikan Kristen. Padahal Visi merupakan tujuan didirikannya pendidikan Kristen itu. Keberhasilan mestinya diukur dari apakah tujuan pendirian pendidikan Kristen tercapai atau tidak. Kalau tercapai, seberapa besar? Jika tujuannya untuk menciptakan peserta didik memiliki prestasi akademis unggul, ya mestinya keberhasilan dalam bidang akademik itu yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan. Tetapi jika sebuah lembaga Kristen tujuannya hanya sesempit ini, maka tidak ada bedanya dengan pendidikan non Kristen, karena tidak ada korelasi yang tegas antara lebel Kristen dengan tujuan pendirian lembaga pendidikan. Tetapi, jika pendiriannya membawa visi-misi Kristen, maka, visi-misi Kristen itu yang menjadi alat ukur keberhasilan pendidikan, bukan kepada prestasi akademis. Jadi evaluasi institusi mestinya dikaitkan dengan visi-misi yang menjadi tujuan pendirian lembaga pendidikan Kristen.
Visi diterjemahkan dari  tujuan pendidikan. Misi diterjemahkan dari visi pendidikan ke dalam proses pendidikan atau diimplementasikan dalam filosofi pendidikan, Kurikulum pendidikan, strategi pendidikan, media pendidikan, dan evaluasi, dan managemen pendidikan untuk menjamin bahwa output memiliki kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari pendirian lembaga  pendidikan Kristen. Hal ini dapat dirangkum dengan pernyataan dibawah ini:
Visi=      Tujuan Pendidikan
Misi=     Sarana untuk mencapai Visi.
                Misi diimplementasikan dalam Proses belajar mengajar (Filosofi pendidikan, Kurikulum, strategi, media, dan evaluasi pembelajaran, manajemen pendidikan).

Berdasarkan dari hal tersebut di atas, maka seharusnya ada kaitan erat antara visi sekolah dengan kurikulum sekolah. Tetapi faktanya, tidak banyak sekolah yang mengintegrasikan visi ke dalam proses belajar mengajar. Sehingga seakan-akan visi hanya penghias tembok sekolah saja. Atau untuk “patut-patut” saja. Visi ini yang menjadi alat ukur bahwa pendidikan Kristen berhasil atau tidak. Misalnya jika Vision Statement Pendidikan Kristen adalah Melaksanakan amanat agung melalui dunia pendidikan, maka amanat agung itu harus diimplementasikan dalam proses pendidikan, dan yang menjadi alat ukur keberhasilan itu adalah berapa orang yang mengenal Kristus dan dimenangkan melalui pendidikan.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak pendidikan yang menamakan diri sebagai pendidikkan Kristen tetapi sesungguhnya tidak membawa misi Kristen. Banyak pendidikan Kristen yang justru membawa misi kapitalisme, membawa misi Industri, yaitu indutri pendidikan, misi profitisasi pendidikan (mencari keuntungan ekonomi sebesar-besarnya lewat bisnis pendidikan atau komersialisasi pendidikan), yang sesungguhnya semua itu bertentangan dengan visi-misi Kekristenan. Lebih baik secara jujur pendidikan yang seperti ini memisahkan diri dari gereja, dan meninggalkan lebel pendidikan Kristen. Keberpihakan kepada ketertindasan yang menjadi visi misi kekristenan tidak tampak dalam kiprah lembaga-lembaga ini. Mereka berupaya terus eksis dalam persaingan global tetapi bukan demi visi-misi pendidikan Kristen, tetapi demi urusan perut dan dapur. Anehnya gereja-gereja tidak bersikap Kritis terhadap hal ini, dan merestui industrialisasi pendidikan berpayung gereja, komersialisasi berpayung pelayanan.
Akhirnya apakah pendidikan Kristen berhasil atau gagal? Jelas banyak yang gagal dari berhasil.

Heboh Miyabi

Keberhasilan dan Kegagalan Pendidikan Kristen
Berbicara tentang keberhasilan atau kegagalan pendidikan Kristen seringkali dikaitkan dengan keberhasilan akademis peserta didik. Artinya jika peserta didik berhasil lulus 100% atau sekolah-sekolah Kristen tetap eksis dan diminati banyak orang maka sekolah Kristen dianggap berhasil. Atau memiliki banyak alumni yang berhasil menjadi orang yang “berhasil” sekolah itu dikatakan berhasil. Konsep berpikir ini sesungguhnya salah, tetapi sudah umum diterima oleh masyrakat Kristen, dan pengelola pendidikan Kristen. Mereka cukup merasa berbangga hati jika peserta didik sukses secara akademik, mereka merasa berhasil mendidik karena output yang mereka hasilkan “berkualitas.”
Pengukuran keberhasilan pendidikan Kristen tidak pernah dikaitkan dengan visi pendirian pendidikan Kristen. Padahal Visi merupakan tujuan didirikannya pendidikan Kristen itu. Keberhasilan mestinya diukur dari apakah tujuan pendirian pendidikan Kristen tercapai atau tidak. Kalau tercapai, seberapa besar? Jika tujuannya untuk menciptakan peserta didik memiliki prestasi akademis unggul, ya mestinya keberhasilan dalam bidang akademik itu yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan. Tetapi jika sebuah lembaga Kristen tujuannya hanya sesempit ini, maka tidak ada bedanya dengan pendidikan non Kristen, karena tidak ada korelasi yang tegas antara lebel Kristen dengan tujuan pendirian lembaga pendidikan. Tetapi, jika pendiriannya membawa visi-misi Kristen, maka, visi-misi Kristen itu yang menjadi alat ukur keberhasilan pendidikan, bukan kepada prestasi akademis. Jadi evaluasi institusi mestinya dikaitkan dengan visi-misi yang menjadi tujuan pendirian lembaga pendidikan Kristen.
Visi diterjemahkan dari  tujuan pendidikan. Misi diterjemahkan dari visi pendidikan ke dalam proses pendidikan atau diimplementasikan dalam filosofi pendidikan, Kurikulum pendidikan, strategi pendidikan, media pendidikan, dan evaluasi, dan managemen pendidikan untuk menjamin bahwa output memiliki kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari pendirian lembaga  pendidikan Kristen. Hal ini dapat dirangkum dengan pernyataan dibawah ini:
Visi=      Tujuan Pendidikan
Misi=     Sarana untuk mencapai Visi.
                Misi diimplementasikan dalam Proses belajar mengajar (Filosofi pendidikan, Kurikulum, strategi, media, dan evaluasi pembelajaran, manajemen pendidikan).

Berdasarkan dari hal tersebut di atas, maka seharusnya ada kaitan erat antara visi sekolah dengan kurikulum sekolah. Tetapi faktanya, tidak banyak sekolah yang mengintegrasikan visi ke dalam proses belajar mengajar. Sehingga seakan-akan visi hanya penghias tembok sekolah saja. Atau untuk “patut-patut” saja. Visi ini yang menjadi alat ukur bahwa pendidikan Kristen berhasil atau tidak. Misalnya jika Vision Statement Pendidikan Kristen adalah Melaksanakan amanat agung melalui dunia pendidikan, maka amanat agung itu harus diimplementasikan dalam proses pendidikan, dan yang menjadi alat ukur keberhasilan itu adalah berapa orang yang mengenal Kristus dan dimenangkan melalui pendidikan.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak pendidikan yang menamakan diri sebagai pendidikkan Kristen tetapi sesungguhnya tidak membawa misi Kristen. Banyak pendidikan Kristen yang justru membawa misi kapitalisme, membawa misi Industri, yaitu indutri pendidikan, misi profitisasi pendidikan (mencari keuntungan ekonomi sebesar-besarnya lewat bisnis pendidikan atau komersialisasi pendidikan), yang sesungguhnya semua itu bertentangan dengan visi-misi Kekristenan. Lebih baik secara jujur pendidikan yang seperti ini memisahkan diri dari gereja, dan meninggalkan lebel pendidikan Kristen. Keberpihakan kepada ketertindasan yang menjadi visi misi kekristenan tidak tampak dalam kiprah lembaga-lembaga ini. Mereka berupaya terus eksis dalam persaingan global tetapi bukan demi visi-misi pendidikan Kristen, tetapi demi urusan perut dan dapur. Anehnya gereja-gereja tidak bersikap Kritis terhadap hal ini, dan merestui industrialisasi pendidikan berpayung gereja, komersialisasi berpayung pelayanan.
Akhirnya apakah pendidikan Kristen berhasil atau gagal? Jelas banyak yang gagal dari berhasil.

Saturday, October 10, 2009

Pendeta Mualaf

Hari-hari menjelang lebaran adalah hari menjaga hati agar kembali fitri. hari-hari membuang hal-hal yang menimbulkan percideraan dan perpecahan bangsa.
namu sontak saya kaget ketika acara dua stasiun TV swasta yaitu TV One dan Trans 7 mewawancarai para mantan Kristen, yang jadi mualaf. ada yang dari luar negeri, ada yang anak pendeta. dll. tayangan ini sungguh menyakitkan hati umat Kristen. bahkan acara Tukul arwana bukan empat mata sampai dua kali melakukan hal ini.
Beranikah TV One dan Trans 7 melakukan hal yang sama dengan agama Islam? mengundang dan mewawancarai mantan ustadz yang jadi Kristen? atau Kyai yang jadi Kristen? hal ini perlu agar berita berimbang, bahwa tidak hanya ada tokoh agama Kristen saja yang pindah ke Islam. ada juga sebaliknya. bisa juga agama-agama lain. jika ada pihak Islam yang pindah Kristen dan bersaksi untuk kalangan gereja saja umat Islam sudah sakit hati. terlebih lagi apa yang sudah dilakukan TV One dan Trans 7 jauh menyinggung umat Kristen, karena mereka bersaksi tentang kemualafan mereka di forum umum, bukan kalangan sendiri.

Saturday, September 26, 2009

pluralisme atau pluralistik

pluralism adalah suatu paham yang menganggap semua agama adalah sama. semua agama adalah kebenaran yang harus diterima bersama. menurut saya pandangan ini sangat tidak logis. jika semua agama sama kita harus mengorbankan akal sehat kita dengan menganggap sama pandangan yang mengatakan Tuhan adalah pribadi dengan Tuhan adalah bukan pribadi. Tuhan itu satu, itu itu banyak, Tuhan itu Esa dianggap sama.
maksud paham ini saya mengerti bahwa benar agama seringkali menjadi penyebab kekerasan. karena pengakuan eksklusif setiap agama. agama dirusak oleh tingkah laku pemeluknya yang tidak sejalan dengan ajaran agamanya. tetapi menafikan perbedaan malahan semakin merusak agama itu sendiri. menghargai perbedaan menurut saya tidak harus membohongi diri dengan mengatakan sama sesuatu yang berbeda. berbedaan itu harus dihargai. kedewasaan beragama bukanlah ditunjukkan dengan sikap mencampuradukkan agama, atau menyembunyikan perbedaan, kedewasaan beragama justru ditunjukkan dengan sikap mengakui perbedaan, dan menghargainya meski tidak menyetujuinya.

Tuesday, April 14, 2009

KASUS DALAM SEPOTONG ROTI

judul di atas sesungguhnya plesetan sebuah film yang bernuansa rohani yang di tayangkan pada hari malam Paskah. mengapa saya plesetkan demikian?
karena jelas bahwa artis-artis kita tidak peka terhadap kebudayaan bangsa ini, sehingga ketika membuat film yang bernuansa rohani, menggunakan lagu-lagu rohani, tetapi menampilkan pakaian yang tidak selayaknya diterima dalam budaya masyarakat Indonesia. bagi masyarakat kristen pun sangat risih, apa lagi bagi masyarakat yang lain.
sangat disayangkan ketika saat ini tayangan-tanyangan yang bernuansa Rohani (Kristen) sudah semakin jarang, ketika ada, tidak mampu menjadi berkat tetapi menjadi cemoohan. mengapa saya katakan demikian?
Kasih pemeran utama film ini menampilkan pakaian yang tidak selayaknya diterima masyarakat Indonesia. masyarakat artis mungkin saja, tetapi masyarakat Indonesia, sangat tidak menerimanya. kasih dalam film ini mengenakan busana yang sangat minim, mempertontonkan keseksiannya, kadang-kadang juga menggunakan kata-kata yang memaki-maki secara kasar seperti gila, de, el, el. sayang sekali antara tema yang diusung dengan gaya penampilan yang dibawakan sangat tidak sejalan.
mestinya film-film rohani mengenakan busana yang lebih santun, sesuai dengan budaya ketimuran. ditengah maraknya kampanye anti pornographi dan pornoaksi, seharusnya artis-artis Kristen peka terhadap perubahan zaman, dan menjadi berkat ditengah-tengah budaya masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
produser-produser film Kristen bukan mencari untung, artis-artis Kristen bukan hanya mencari duit, tetapi melayani. pantaskah melayani kristus dengan busana yang sangat minim, dan disaksikan jutaan pemirsa di Indonesia?
kesaksian isi cerita dengan busana yang duikenakan tidak sejalan sehingga tidak membawa pengaruh positif. saya m,enghimbau pada artis-artis kristen, dan produser-produser yang mengangkat tema-tema Kristen, dan semestinya tidak perlu mengenakan simbol-simbol Kekristenan seperti salib, lagu-lagu rohani, dan lain-lain, jika tidak mampumenampilkan tontonan yang sopan, mengedepankan Kristus, bukan kebaikan manusia, buat saja secara humanis, jangan bawa-bawa filosofi Kristen, karena alih-alih menjadi berkat, malahan menjadi cemoohan.

Saturday, April 4, 2009

Politik Kristiani

Partai Kristiani


Semua orang Kristen tahu bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menjadi garam dan terang dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika berbicara menjadi garam dan terang dalam berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali adalah dalam dunia politik. Akan tetapi sangat disayangkan hingga saat ini gereja sepertinya alergi dengan partai-partai kistiani. Hal ini terlihat dengan sedikitnya orang-orang Kristen yang mendukung adanya partai kristiani. Kenyataan ini terlihat dalam pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh gereja. Tetapi secara malu-malu gereja sering menyatakan dukungannya kepada sebuah partai yang menunjukkan sikap politiknya seperti contoh PGI yang secara terselubung memberikan dukungan kepada Golkar di era Orde Baru.

Terkadang orang Kristen lupa, bahwa mengusahakan dan mensejahterakan dunia ini atau yang lebih familier disebut dengan mandat budaya adalah juga mandat yang diterima dari Allah. Jalur politik adalah salah satu jalur yang relevan untuk saat ini sebagai upaya memperbaiki bangsa ini, dan merupakan wujud ketaatan kristiani untuk memenuhi mandat budaya. Akan tetapi hingga kini sepertinya orang-orang Kristen menganggap politik itu adalah tempat kotor yang akan menodai jubah kesuciannya. Bukankah tempat yang gelap itu membutuhkan sang penerang, dan obor dari Sang Penerang bukankah telah di estafetkan kepada gereja? Bukankah tempat yang penuh dengan kebusukan perlu garam yang menghentikan pembusukan, dan bukankah garam itu adalah gereja yang mesti masuk, melebur dalam tempat yang penuh kebusukan itu.

Bukan maksud saya untuk menyeret gereja dalam politik praktis, kemudian organisasi gereja membuat partai politik, maksud saya ialah harus ada sebuah partai kristiani yang didukung oleh gereja yang membawa suara gereja di tengah-tengah bangsa ini. Kita semua tahu bahwa bangsa ini sedang sakit, sakit dalam segala bidang, termasuk dalam dunia politik, karena itu orang-orang percaya perlu bekerja keras memulihkan bangsa ini. Ketika kita berdoa untuk pemulihan negri ini, kita juga harus siap berkata “ini aku utuslah aku” termasuk ketika kita berdoa agar Tuhan memulihkan kondisi perpolitikan bangsa ini, perlu ada orang-orang seperti Nehemia, yang berkata “utuslah aku!” ketika kondisi perpolitikan bangsa ini sedang rusak, Tuhan juga kan menuntut anak-anaknya yang hanya berpangku tangan saja, atau cari aman sendiri.

Selama ini gereja merasa sudah cukup puas berkiprah dalam dunia gerejawi (rohani) saja, atau sosial (bakti social), dan menitipkan perjuangannya pada partai-partai lain. Memang banyak partai yang di dalamnya ada orang-orang Kristen, tetapi mereka tidak membawa suara kekristenan, mereka tidak membawa mandat dari gereja (misioechlesiae), mereka membawa ideology partai. Jika suara mereka tidak sesuai dengan keinginan partai, bisa saja di recall. Ibarat kata gereja lebih senang menumpang di dalam kendaraan orang, yang tidak bisa dikemudikannya sendiri. Alangkah baiknya jika gereja memiliki kendaraan yang dapat dikemudikannya ke arah yang dikehendaki Allah. Partai Kristiani (bukan partai gereja, tetapi partai yang membawa nafas kekristenan) adalah sebuah partai yang dikemudikan oleh generasi-generasi gereja yang handal, beriman dan berkarakter Kristen.

Memang akan ada bahaya besar jika gereja juga ambil bagian secara langsung dalam dunia politik, dan ini sering menjadi momok yang menakutkan bagi pemimpin-pemimpin gereja. Bahaya besar atau ketakutan besar pertama adalah terseretnya gereja dalam euphoria duniawi mengingat tantangan kesuksesan, harta, dan seks sangat besar dalam kancah perpolitikan. Alih-alih menjadi garam dan terang, kader-kader parai bisa-bisa dikamhirkan oleh ragi “Herodian, Farisi, dan Saduki”. Oleh karena itu gereja harus mampu menempatkan kader-kader yang militan dalam iman, namun kontekstual dalam tindakan. Ketakutan besar kedua adalah tergeneralisasinya antara gereja dengan kepentingan politik. Gereja Barat telah membuktikan bahwa, ketika kepentingan kekuasaan tidak bisa dibedakan dengan kepentingan rohani, gereja menjadi sekuler. Bahaya kedua ini akan membawa dalam bahaya ketiga, yaitu, ketika berhadapan dengan rifal-rifal yang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan partai politik kristiani, ditakutkan akan menyeret gereja dalam permasalahan, sehingga kehilangan kenyamanan beribadah.

Bahaya-bahaya itu memang sangat masuk akal ketika gereja menyatakan dukungan terhadap partai politik. Tetapi gereja tidak akan mampu menjadi agen perubahan jika tidak mau mengambil resiko, dan rela memikul salib. Disamping alasan-alasan yang bersifat luas ini juga ada alasan-alasan yang bersifat praktis, antara lain:

  1. Kalau ada warga jemaat yang berbeda aliran politiknya nanti akan tersingkir dan terkucilkan. Ini tidak benar, ajaran gereja sudah terbentuk untuk saling mengasihi tanpa deskriminasi. Justru dalam hal ini akan menunjukkan kekuatan gereja yang mampu menghargai perbedaan sikap politik warganya, dan menjadi alat peraga yang hidup bagi agama-agama lain bagaimana bisa saling mengasihi meskipun berbeda sikap politik.

  2. Gereja mestinya mengurusi hal-hal rohani saja, bukan hal-hal duniawi. Paham ini dikarenakan adanya pemikiran dikotomis antara duniawi dan rohani. Duniawi dan rohani mestinya tidak dilihat secara dikotomis parsial, tetapi mestinya dilihat dalam keterhububungan, dan kesinambungan yang saling mempengaruhi. Rohaniwan tetapi sekaligus warga Negara yang memiliki hak dan kewajiban membangun bangsa. Dua posisi yang berbeda, namun memiliki keterkaitan yang erat.

  3. gereja jangan berpolitik praktis, tetapi menyiapkan kader-kader yang bisa menduduki posisi penting dalam partai-partai nasionalis. Sebenarnya jika jujur, menyiapkan kader itu sudah berpolitik praktis, hanya secara halus dan tidak terlihat (supaya aman). Yohanes berkata “dalam kasih tidak ada ketakutan”. Ingat partai-partai nasionalis itu sudah memiliki plat form tersendiri, dan ideology tersendiri. Gereja tidak berhak membina kader-kader partai nasionalis, (terbukti tidak pernah ada pembinaan rohani dalam partai-partai nasionalis manapun bagi kader Kristen), maka kader-kader itu tidak pernah merasa bahwa ia mewakili gereja untuk duduk dalam kepartaian. Maka tidak heran banyak anggota legislative Kristen, tetapi korupsi masih berjalan terus. Keberadaan kekristenan di dalam legislasi tidak membawa impact moral yang berarti, lebih-lebih ketika anggota legislative Kristen pun ikut andil dalam korupsi. Tidak ada kader yagn mendapat sangsi dari gereja karena kkn.

Tulisan ini sekali lagi bukan merupakan anjuran bagi gereja untuk berpolitik praktis, karena bagi saya gereja sudah berpolitik praktis. Tulisan ini dimaksudkan memberi masukan untuk gereja berpolitik praktis secara bagaimana? Memang tidak perlu mengidentifikasikan gereja dengan salah satu partai tertentu, tetapi memberikan dukungan, memantau, mengingatkan, membina pada partai politik kristiani merupakan langkah yang bijak sebagai wujud tanggung jawab gereja dalam menyuarakan kebenaran dalam dunia politik.



Tuesday, March 24, 2009

gereja dan politik

pada saat ini, banyak Partai-partai Kristen yang bermunculan. partai-partai tersebut membawa simbol-simbol (pemikiran-pemikiran) Kekristenan ke dalam dunia politik. dengan bermunculan partai-partai Kristen ini, reaksi beragam diberikan oleh gereja. ada yang bersikap menolak, ada yang bersikap mendukung, ada yang bersikap akan mendukung atau menolaknya tergantung dari perkembangan partai, ada yang tidak peduli.

sikap gereja-gereja protestan umumnya menolak dengan adanya partai-partai Kristen ini. alasannya, gereja bukan partai politik, dan tidak boleh berpolitik. lebih lanjut dikatakan bahwa buktinya partai-partai Kristen yang pernah ada tidak menjadi berkat, penuh perpecahan, tidak bersuara lantang, dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran negatif terhadap partai bernafaskan kekristenan. mayoritas pemimpin-pemimpin gereja menolak adanya partai-partai Kristen.
secara pribadi saya mengkritisi sikap gereja seperti ini. alasan saya:
1. Adanya partai politik bernafaskan kristen bukan berarti membawa organisasi gereja terjun dalam politik praktis. kita harus bisa membedakan antara orang kristen sebagai anggota gereja, dengan orang kristen sebagai warga negara, yang memiliki hak untuk berpolitik, berserikat dan berkumpul.
2. Ketakutan nanti jika ada anggota gereja yang memiliki sikap politik yang berbeda akan dikucilkan. ini tidak benar, justru lewat perbedaan sikap politik ini, gereja memiliki kesempatan untuk mengajarkan demokrasi, meskipun berbeda aliran politik tetapi tetap satu sebagai anggota tubuh Kristus.
3. Jika bukan orang Kristen sendiri yang memperjuangkan kepentingannya, jangan harap orang lain akan memperjuangkan kepentingan Kekristen sebagai warga negara.

selama ini kita hanya puas dengan menitipkan aspirasi kita kepada partai-partai lain. selayaknya kita bangkit dan berpikir positif terhaap partai Kristen, sebagai kendaraan sendiri untuk memperjuangkan keadilan dan aspirasi kita sebagai wujud darma baikti kita pada bangsa ini. jika slama ini ada partai Kristen yang pecah, tidak menjadi berkat, hal itu menurut saya merupakan dinamika kehidupan kepartaian. kelemahannya kita perbaiki, bukan sekedar melempar penghakiman, sementara kita sendiri tidak mau terjun untuk memperbaiki.

Wednesday, March 18, 2009

QUO VADIS GKJ?

Sabtu 17 Januari 2009 saya menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan GKJ Purwokerta atau yang lebih dikenal GKJ Bayangkara. Pembicaranya adalah orang-orang yang terkenal di Indonesia yaitu Prof Franz Magnis Suseno, SJ, dan Pdt. Emiritus Kadarmanto, Ph.D. tema yang dibawakan adalah berjalan bersama dalam arak-arakan gerejawi.

Yang menyentak bagi saya adalah pemikiran Pdt. Emiritus Kadarmanto, Ph.D., yang merupakan juga Ketua Umum Gereja-Gereja Kristen Jawa. Dia tidak setuju dengan misi penginjilan dengan mengangap penginjilan itu tujuannya tidak jelas, menangkan jiwa dari mana, untuk apa, mengapa, demikian katanya. Dia lebih jauh mengatakan bahwa penginjilan hanya sekedar mencari teman senasib sebanyak-banyaknya (golek bolo). Lebih jauh ia mengatakan bahwa orang yang baik meskipun bukan Kristen, tidak percaya Yesus juga pasti masuk sorga.

Kemudian dia juga mengkritisi misi tri tugas gereja yang menyebutkan pelayanan, kesaksian dan persekutuan. Menurutnya misi gereja adalah rekonsiliasi, atau pelayanan pendamaian. Namun pelayanan pendamaian yang dia maksud bukanlah pendamaian antara Allah dan manusia yang berdosa lewat darah Yesus seperti yang dimaksud oleh Paulus, melainkan pendamaian antar agama, pendamaian antara masyarakat, pendamaian antar suku agama, dan ras, dan lain-lain.

Dari pernyataannya ini memunculkan pemikiran dalam diri saya:

  1. Tokoh sekaliber Kadarmanto, yang merupakan pemimpin gereja aras nasional bisa memiliki pemikiran sedemikian itu merupakan pemikirannya sendiri atau mewakili pemikiran gerejanya mengingat acara tersebut adalah acara resmi gerejawi

  2. Jika mewakili pemikiran gerejanya, yaitu GKJ, Qouvadis GKJ? GKJ tidak layak lagi disebut sebagai gereja beraliran Calvinis. Beliau juga adalah juga Ketua Umum GKJ.

  3. apakah pemikirannya juga mewakili STT Jakarta mengingat beliau adalah dosen di STT Jakarta.

  4. Jika GKJ tidak setuju dengan pemikiran Beliau mestinya memberikan pembinaan lagi untuk membetulkan doktrinnya. STT Jakarta mestinya juga memikirkan ulang menjadikan beliau sebagai pengajar di sana. Jika tidak maka ada kecurigaan bahwa pada umumnya pemimpin-pemimpin GKJ dan STT Jakarta memang setuju dengan pendapat ini.

  5. ada schedule apa yang dirancang GKJ Purwokerto, sehingga membuat acara dan mengundang pembicara dengan menghabiskan biaya yang Jutaan rupiah karena acara ini terbuka untuk umum dan mengundang pendeta-pendeta denominasi lain hanya untuk mengatakan bahwa keselamatan tidak hanya ada di dalam Yesus, atau tanpa Yesus pun ada keselamatan.

Wednesday, March 11, 2009

masalah heterogenitas


KEKUATAN DAN KELEMAHAN HETEROGENITAS GEREJA DI INDONESIA


BAB I
Pendahuluan

Kebenaran selalu bersifat tunggal, namun penafsiran dan pengaplikasiannya dalam sebuah konteks, bisa bersifat majemuk. Demikian juga agama sebagai refleksi dari cahaya kebenaran juga bersifat mejemuk. Kemajemukan ini bukan saja dikarenakan kepercayaan agama yang berbeda, dalam satu komunitas penghayatan agama pun terdapat konsep iman yang berbeda-beda, meskipun bersumber dari otoritas yang sama.
Alkitab mencatat sejak zaman para rasul, sudah ada perbedaan pandangan dalam kekristenan. Ada yang bersifat lunak, ada juga yang bersifat ektrim, dan ada yang sesat. Dalam bagian suratnya rasul Paulus memahami kemajemukan sebagai kekayaan kekristenan karena diberikan menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4:7). Namun dibagian lain, dengan tegas ia menolak jika perbedaan itu menjurus kepada kesesatan. (Mis Gal 1:6-10. Bnd 1 Kor 3:10-17).
Dengan bergulirnya sejarah, penghayatan iman Kristen tidak semakin mengkristal malahan semakin memiliki kepusparagaman. Kekuasaan Gereja Abad Pertengahan yang jauh lebih besar dari kerajaan-kerajaan di Eropa tidak juga mampu memblokir timbulnya penghayatan iman yang beragam. Munculnya ragam penghayatan ini mendorong Paus menyatakan diri sebagai satu-satunya kuasa yang berhak menafsirkan Kitab Suci. Dengan kekuasaannya Paus juga menggerakkan kerajaan-kerajaan Eropa pada masa itu untuk menumpas golongan-golongan yang dianggapnya sesat. Akan tetapi usaha itu tidak juga mampu meredam timbulnya gejolak pemikiran teologis yang baru. Gejolak itu akhirnya menyemburkan magma Reformasi yang memisahkan dunia kekristenan dalam dua kutup utama, yaitu Reformasi dan Kontrareformasi.1
Selanjutnya gerakan Reformasi yang meneriakkan slogan Back to the bible sebagai satu-satunya kaidah iman ternyata juga tidak lepas dari penafsiran terhadapnya.2 Dengan semboyan yang sama, masing-masing pihak mengklaim sebagai kebenaran yang sejati, dan alkitabiah, sehingga pasca Reformasi aliran-aliran pemikiran baru bermunculan, bahkan ada yang dalam bentuk ekstrim. Ada yang ekstrim menentang otoritas AIkitab dan meninggikan rasio, ada juga yang ekstrim anti kebudayaan dan modernisasi.
Mengklaim bahwa keyakinannya adalah yang paling benar adalah suatu kewajaran, namun jika dibarengi upaya memproteksi golongannya dengan mematikan atau menghancurkan golongan lain dengan cara-cara tidak sehat, malahan bertolak belakang dengan kebenaran yang diklaimnya.
Jika demikian sejauh mana pluralitas pandangan teologis gereja itu dapat diterima, dan sejauh mana harus ditolak? Sejauh mana pluralitas memperkaya kekristenan, dan sejauh mana justru merusak Injil? Sikap apa yang mesti dikembangkan gereja-gereja di Indonesia dalam menyikapi pluralitas kekristenan. Inilah yang akan dijawab penulis dalam makalah ini. Akan tetapi walau bagaimanapun munculnya aliran-aliran sesat dalam tubuh kekristenan itu merupakan hutang gereja karena adanya ketidakberesan di dalam gereja-gereja yang sudah mapan.3
Munculnya berbagai aliran dalam tubuh kekristenan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu perbedaan metode penafsiran dan perbedaan konteks Injil diberitakan. Perlu disadari bahwa semua aliran adalah produk sejarah pada suatu masa tertentu,4 sejarah gereja merupakan upaya gereja dalam memberi jawab atas zaman. Gereja selalu bergumul antara isi Injil dan bentuk-bentuk yang dipergunakan untuk mengungkapkan Injil5 dalam konteks yang berbeda dan berubah.
1.Perbedaan Metode Penafsiran.
Perbedaan penafsiran sudah mewarnai sejarah gereja sejak masa awal kekristenan. Dua mazhab besar aliran penafsiran yaitu Alexandria yang mempergunakan penafsiran alegori6 dan aliran Antiokhia yang mempergunakan tafsiran literal telah menghasilkan bentuk yang khas Alexandria dan Antiokhia. Ciri-ciri teologi Alexandria antara lain:
a.Memberi penekanan pada logos sebagai oknum kedua dari Allah Tritunggal
b.Memperhatikan kesatuan tabiat Yesus, dan teristimewa menekankan keilahian Kristus.
c.Kejadian-kejadian/riwayat Yesus dalam keempat Injil merupakan kejadian simbolik tentang iman, sehingga lebih penting menghayati makna tersembunyi (makna kiasan/alegoris) dibalik peristiwa dan tokoh dari pada mengerti kesejarahannya.7

Sedangkan berlawanan dengan hal tersebut di atas adalah aliran Antiokhia. Ciri-ciri aliran ini adalah:
a.Memberi perhatian khusus kepada kemanusiaan Yesus. Penekanan ini bukan berarti menolak Yesus sebagai Tuhan, melainkan kemanusiaan Kristus menjadi sorotan utama dalam menjalani hidup kekristenan.
b.Kejadian-kejadian dan riwayat Yesus dalam ke empat Injil dimengerti sebagai kejadian sesungguhnya, bukan simbolik.
c.Tetap mempertahankan keilahian Kristus, hanya saja uraian tentang kesatuan tabiat Kristus sangat kurang, sehingga terkesan Yesus memiliki kepribadian ganda.8

Dua aliran teologi ini mewarnai pertikaian teologis yang memaksa kaisar yang berkuasa pada masa itu untuk menyelenggarakan konsili agar pertikaian itu tidak berlarut-larut dan mengancam stabilitas negara. Namun kenyataannya konsili demi konsili yang diselenggarakan selalu diikuti munculnya aliran baru yang keluar dari gereja arus utama. Paling tidak terdapat empat aliran besar gereja pada periode awal gereja, yaitu golongan Kalsedone yang sering disebut Melkit atau Byzantium, golongan Nestorian (Assyria), golongan Monofisit Ekstrim dan Monofisit Moderat.9 Golongan Kalsedon sendiri kemudian terpecah pada masa skisma menjadi dua yaitu Roma Katholik dan Yunani Orthodok. Meskipun perpecahan tersebut terutama disebabkan hegemoni Gereja Barat, namun dibalik itu, skisma disebabkan adanya perbedaan teologis dan corak kerohanian akibat penafsiran yang berbeda.
Setelah mengalami perpecahan, Gereja Barat (Roma Katholik) terus menerus diguncang perpecahan. Sebut saja kelompok Wyclife dari Inggris, John Hus dari Bohemia, Savonarola dari Florensa. Tetapi perpecahan yang paling monumental adalah Reformasi yang secara historis diyakini terjadi tanggal 31 Oktober 1517 dengan penempelan 95 dalil oleh Marthin Luther. Peristiwa itu hanyalah sumbu ledak saja, karena sebenarnya Reformasi telah dimulai sebelum waktu tersebut, yaitu ketika dia menafsirkan Roma 1:16-17.
Fakta di atas membuktikan bahwa penafsiran merupakan hal utama dan menjadi akar dari segala keberagaman pandangan teologis gereja. Menyikapi hal ini Junifius Gultom mengatakan: “sebenarnya masalahnya terletak pada model penafsiran (hermeneutik) seperti apa yang mereka pergunakan ..., karena itu cara berteologi yang sehat merupakan salah satu kunci utama dan usaha berteologi yang bertanggungjawab.”10
2. Perbedaan Konteks Injil diberitakan.
Konteks Injil diberitakan akan menyebabkan keragaman teologis. Hal ini nyata dalam dua sifat teologi yaitu sifat reproduktif-tradisional, dan produktif.11 Sifat yang pertama berfungsi mempertahankan ajaran-ajaran teologi tradisional, sedangkan sifat yang kedua yaitu produktif-kontekstual akan terus menerus menginterpretasikan kitab suci sesuai dengan situasi yang sedang berkembang (konteks).12 Harimurti mengatakan:
”Ini berarti teologi tidak saja menerima doktrin-doktrin yang sudah ada, melainkan juga menawarkan formula yang lebih sesuai dengan situasi yang sedang berkembang. Teologi memandang bahwa dogma gereja tidak ditetapkan sekali untuk selama-lamanya, tetapi terus berkembang sesuai kebutuhan, bahkan bisa dikoreksi ulang.13

Hubungan antara konteks Injil diberitakan dengan corak teologis yang dihasilkan terlihat dalam corak teologis gereja Barat dengan gereja Asia Lama.14 Demikian juga halnya perbedaan gereja–gereja Protestan di Eropa dan Amerika. Gereja-gereja di dunia ketiga juga mengembangkan teologi yang khas dunia ketiga, yang tidak hanya saja berbicara kemiskinan rohani, namun juga berbicara kemiskikan sosial dan kemanusiaan.,
Hubungan antara konteks dan keragaman seperti dalam hal tata gereja, tata kebaktian, dan ajaran di tegaskan oleh Van Den End dengan mengatakan: “soalnya ialah bahwa, dalam sejarah, Injil dibawa kepada orang-orang yang hidup dalam berbagai-bagai lingkungan. Lingkungan-lingkungan itu berbeda-beda menurut tempat dan jamannya.”15 Lingkungan yang heterogen itu menyebabkan Injil mesti diberitakan dalam bingkai heterogenitas.
Dua hal di atas ini tidak saja penting bagi keragaman teologis, tetapi juga sangat penting agar tercipta teologi yang bertanggungjawab dan membumi, alkitabiah, dan up to date dengan pergumulan kekinian.16 Mengenai kaitan antara penafsiran dan konteks, disebutkan oleh Daniel Lukas Lukito sebagai berikut: “cara yang tepat untuk menginterpretasikan Alkitab adalah pertama-tama menerima otoritasnya, serta mengaplikasikannya dalam situasi kita.”17







BAB II
KEKUATAN DAN KELEMAHAN HETEROGENITAS AGAMA KRISTEN DI INDONESIA

A.Heterogenitas Agama Kristen Di Indonesia.
1.Heterogenitas Teologis.
Gereja-gereja di Indonesia pada mulanya didirikan oleh misi dan zending yang beraliran Katholik dan Protestan. Kemudian aliran Potestan terus menerus terpecah-pecah menjadi Lutheran, Calvinis, dan Ana Baptis. Pada era modern muncul pula golongan Oikumenikalisme, Evangelikalisme, Pantekosta, dan Karismatik. Aliran-aliran Gereja Barat itu tumbuh dengan subur di Indonesia. Bahkan aliran-aliran yang termasuk dalam golongan sesat juga tumbuh subur di Indonesia ini.
2.Heterogenitas Liturgis.
Liturgi atau tata ibadah gereja-gereja di Indonesia, juga cukup beragam. Hal ini sebenarnya sebagai dampak dari heterogenitas teologis yang ada. Masing-masing aliran teologis membawa sistem liturginya sendiri-sendiri. Ada yang sistem liturgi tertata rapi, ada yang cenderung bebas, dan ada yang mengutamakan kekhusukkan. Ada sistem liturgi yang memberikan penekanan pada sakramen, yaitu Gereja Katholik, ada yang memberikan penekanan pada pemberitaan firman, yaitu gereja-geraja Injili, ada yang memberikan penekanan pada prosesi ibadah, yaitu gereja-gereja orthodok, dan ada yang memberikan penekanan utama pada pujian dan penyembahan dalam sistem liturginya, yaitu gereja-gereja Pentakosta-Karismatik.
3.Heterogenitas Organis.
Secara organis, tata pemerintahan gereja Indonesia juga sangat beragam. Tata gereja-tata gereja yang ada itu sebenarnya mengadopsi dari tata gereja luar negeri yang merupakan induk bagi gereja Indonesia. Keragaman organis terlihat dalam bentuk pemerintahan gereja yaitu antara lain:
a. Sistem pemerintahan Sinodal : Gereja Lutheran, Metodis.
b. Sistem pemerintahan Presbiterial : Gereja-gereja yang beraliran Calvinis.
c. Sistem pemerintahan Episcopal : Gereja-gereja Anglican, Orthodok, Kerasulan Baru.
d. Sistem pemerintahan Papal : Gereja Katholik
e. Sistem pemerintahan Pastoral : Gereja Pantekosta dan Karismatik
f. Sistem Kongregasional : Gereja Baptis.

B.Kekuatan dan Kelemahan Keragaman Teologis dalam Gereja.
1.Kekuatan Keragaman Teologis.
Tidak bisa dipungkiri keragaman memiliki nilai-nilai positif yang perlu dikembangkan sebagai kekuatan dari keragaman itu sendiri. Kekuatan yang terdapat dalam keragaman teologis yang perlu tetap dipertahankan dalam gereja, yaitu:
a.Keragaman Memperkaya Pandangan Teologis Gereja.
Junifrius Gultom mengatakan bahwa Alkitab berisi mutiara yang tidak habis-habisnya digali,18 mutiara-mutiara itu merupakan harta kekayaan gereja, bisa memperkaya kasanah teologi gereja. Kemampuan manusia yang terbatas, membuatnya tidak mungkin menyelami seluruh kekayaan Allah. Meskipun teologi konservatif mengakui salah satu sifat Alkitab adalah terang,19 namun ternyata tidak semua mampu dimengerti oleh manusia. Inilah sebabnya Paulus mengatakan ”kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” Tetapi, semua itu dikerjakan oleh Roh yang satu.” Dengan keragaman ini, Allah menginginkan jemaatnya saling membutuhkan.

b.Keragaman Meningkatkan Daya Saing Terhadap Pihak Luar.
Suasana kompetitif yang sehat, sebenarnya dapat meningkatkan kualitas gereja. Keragaman dalam kekristenan menciptakan suasana kompetitif antara aliran atau denominasi. Dengan adanya kompetisi dari dalam, secara tidak langsung daya saing terhadap pihak luar juga akan meningkat. Slogan “semper reformanda et reformata” mestinya terus digumuli. Apa yang dianggap relevan dan berhasil dimasa lalu, belum tentu akan berhasil dimasa sekarang. Dalam sisi positif, ”urbanisasi” antar gereja merupakan bukti eksistensi gereja dalam menjawab kebutuhan manusia. Gereja-gereja yang tidak siap dengan tantangan zaman lambat laun akan ditinggalkan, karena berarti metode pelayanan gereja sudah tidak relevan dengan situasi pendengar. Oleh karena itu, gereja harus masuk dalam suasana kompetitif yang sehat.
c.Keragaman Sebagai Alat Koreksi dan Introspeksi
Munculnya penafsiran yang berbeda sesungguhnya merupakan alat koreksi terhadap gereja. Aritonang menyikapi maraknya pengajaran akhir zaman yang beragam dengan mengatakan: ”Gejala kemunculan berbagai aliran yang, menekankan perkara-perkara itu mestinya mendorong setiap gereja memeriksa ulang baik perhatiannya maupun pemahamannya atas perkara-perkara itu.”20 Pernyataan ini mestinya tidak hanya berlaku bagi pengajaran akhir zaman saja. Gereja semestinya selalu memeriksa ulang doktrin-doktrinnya, metode pelayanannya, tata gerejanya, dan tata ibadahnya. Senada dengan itu, Borought seorang tokoh kesatuan gereja Ingris mengatakan:
“eksistensi gereja-gereja yang berbeda tersebut-yang masing-masing mengupayakan suatu pemahaman yang terbaik untuk menjadi wakil gereja Kristus di dunia ini -berperan sebagai suatu sarana korektif yang permanen bagi kecenderungan gereja tersebut.”21

Dengan adanya alat koreksi dan instropeksi ini, harapannya, gereja akan dapat menawab pergumulan kekinian.
2.Kelemahan Keragaman Agama Kristen di Indonesia.
Disamping terdapat hal-hal yang menjadi kekuatan. Ada juga bahaya yang mengancam yang perlu disikapi dengan kritis dan waspada agar gereja tidak terjebak dalam kehancuran karena keragaman. Bahaya-bahaya itu antara lain:
a.Keragaman Berpotensi Mempermiskin Gereja karena Rawan Konflik
Keragaman dalam gereja menyebabkan perbedaan kepentingan. Perbedaan kepentingan ini seringkali mengakibatkan konflik dalam dan antar gereja. Konflik yang berkepanjangan akhirnya akan menimbulkan pandangan gereja lain bukan sebagai kawan sekerja, melainkan sebagai saingan yang harus ”ditengking.” Persekutuan-persekutuan gereja seringkali menjadi komunitas pura-pura yang menghasilkan kesatuan semu. Sebuah gereja merasa cukup sukses melayani dengan pertumbuhan jemaat yang berasal dari pengurangan jemaat gereja lain. Cara-cara kotor seringkali mewarnai arus urbanisasi antar gereja. Realita ini menjadikan tipe gereja-gereja urban.22 Dampak lebih jauh dari persaingan yang tidak sehat ini menjadikan pelayanan rohani sebagai bisnis duniawi. Keberhasilan PI menjadi kesempatan menjual jiwa demi rupiah yang terus mengalir.23
Dampak yang paling terasa adalah dipersempitnya ruang kesaksian gereja di Indonesia yang sebenarnya secara kultural bisa menerima perbedaan karena falsafah bhineka tunggal ika. Akan tetapi ketika gereja-gereja berseteru, masyarakat menjadi sulit untuk mengerti kasih Kristus yang diberitakan gereja. Pada pengantar terbitannya redaksi Jurnal Gnosis menuliskan:
“Keragaman berteologi dapat menjadi kekayaan serta sebuah penelusuran yang menarik untuk dibangun dan dikembangkan atas dasar firman Tuhan, tetapi sebaliknya keragaman itu bisa menjadi “pemiskinan” jika dibangun pada upaya pembenaran diri yang bermuara pada penyombongan diri. Akibat yang lebih jauh lagi adalah memperbesar potensi terjadinya perpecahan dalam gereja.24

b.Keragaman Menyebabkan Kebingungan Identitas Teologis Jemaat.
Sisi negatif lain, adalah adanya kebingungan identitas teologis dalam jemaat. Situasi ini hampir sama dengan Amerika abad 19, yaitu abad lahirnya bidat-bidat modern, yang dideskripsikan oleh Aritonang sebagai berikut:
“para pengkhotbah dari bermacam-macam gereja dan aliran berlomba-lomba mentobatkan atau mentobatkan kembali masyarakat, termasuk dengan membanjiri mereka dengan Alkitab, traktat, dan majalah. Masing-masing menyebut ajarannya sebagai yang paling Alkitabiah dan paling benar. Ini tak jarang menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang hendak di Injili dan ditobatkan.”25

Kebingungan teologis ini menjadikan kekristenan tidak memiliki dasar yang kuat untuk membentuk pola hidup jemaat, dan tidak bisa mengakar kuat menjadi suatu sistem nilai. Dalam hubungan antar teologi dengan sistem nilai, Eka Darma Putera menyebutkan pendapat Weber yang mengatakan: “teologi Calvin yang membentuk etos kerja yang baru sehingga membuat peradaban Barat menjadi maju dan menguasai dunia.”26 Pendapat ini menyiratkan, bahwa konsep teologi membentuk sistem nilai, dan sistem nilai membentuk karakter masyarakat. Akan tetapi gereja di Indonesia seperti yang di sebutkan oleh Eka Darma Putera: ”yang mayoritas mewarisi teologi Calvin tidak mewarisi etos kerjanya. Secara formal dan verbal mengamini ajaran Calvin, tetapi mengenai sistem nilai masih mengakar pada tradisi ketimuran.”27 Hal tersebut dikarenakan gereja tidak mampu mempenetrasikan teologinya ke dalam sistem nilai umat
c.Keragaman Rawan Terhadap Penyesatan
Sikap hidup bergereja seperti yang disebutkan di atas akan menimbulkan kerentanan terhadap penyesatan. Jemaat tidak kokoh dalam ”doctrinal statement” sehingga akhirnya mereka mudah menerima ajaran-ajaran sesat yang berlebel Kristen. Kebingungan teologis ditambah dengan lemahnya “doktrinal statement” menjadikan mereka tidak bisa mendefinisikan iman Kristennya secara benar. Ketidakmampuan mendefinisikan iman Kristennya secara benar akan membuat mereka tidak mengerti mana ajaran yang benar, yang ekstrim, dan yang sesat. Klaim tiap organisasi sebagi pemilik ajaran yang paling benar menambah kebingungan pada tataran grass root. Seperti halnya di Amerika, kebingungan teologis di Indonesia juga memunculkan banyak aliran-aliran sesat dan ekstrim, yang sebagian besar memang di import dari manca negara. Akhirnya aliran-aliran sesat yang menawarkan sensasi baru, dan pengalaman-pengalaman spiritual marak berkembang di Indonesia.
B.Sikap yang Perlu Dikembangkan dalam Mencermati Keragaman Agama Kristen Di Indonesia.
Dengan adanya kelebihan dan kelemahan keragaman Agama Kristen di Indonesia, maka gereja perlu mengembangkan sikap yang tepat agar keragaman yang ada tidak menghancurkan gereja, tetapi membawa gereja ke dalam kekayaan yang bersinergis.
1.Sikap Saling Menghargai Perbedaan tetapi tidak Mengkompromikan Kebenaran.
Sikap semacam ini harus dikembangkan oleh setiap umat Kristen di Indonesia. Dengan ini umat Kristen di Indonesia dapat menjadi terang di tengah-tengah agama-agama lain yang tidak atau kurang dapat menghargai perbedaan. Ada agama-agama yang bersikap anarkhis terhadap golongan-golongan yang dicapnya sesat. Sebagai manusia, umat Kristen perlu menghargai kemanusiaan, menghargai keyakinan lain. Sikap menghargai itu bukan berarti menyetujui keyakinan mereka dan menolak Pekabaran Injil. Pekabaran Injil tetap harus berjalan dengan baik. Menghargai bukan berarti mengikuti ajaran tersebut, apa lagi mencampuradukkan. Suara kebenaran Injil sebagai satu-satunya jalan keselamatan sebagai harga mati yang tidak dapat di tawar-tawar lagi harus terus dikumandangkan, tetapi dengan cara-cara yang santun.
Di dalam ranah Kekristenan sendiri, orang-orang yang memiliki keyakinan sesat harus dirangkul, bukan dimusuhi. Justru mereka harus dibimbing kejalan yang benar dengan santun dan penuh kasih, bukan dengan paksaan.
2.Sikap Terbuka Terhadap Koreksi.
Sikap kedua adalah terbuka terhadap koreksi. Sebagai suatu organisasi, gereja tidak luput dari kesalahan, bahkan juga kelemahan-kelemahan teologis.28 Hal ini terbukti dalam sejarah gereja, dimana teologi selalu berkembang dan berubah. Oleh karena itu setiap kritik mesti disikapi dengan arif dan bijaksana, bukan malahan menganggap koreksi dari pihak lain sebagai sikap memusuhi.


3.Sikap Saling Peduli Terhadap Golongan Lain.
Sikap yang ketiga yang sangat perlu dikembangkan adalah sikap saling peduli antar golongan gereja. Sikap ini perlu dipupuk dan seyogyanya menjadi program gereja. Tidak bisa dipungkiri sikap peduli antar gereja semakin menipis karena tingkat persaingan antar gereja yang berupaya berebut space untuk bisa eksis. Persaingan yang tidak sehat ini lebih dikarenakan pertumbuhan jumlah gereja tidak seimbang dengan pertambahan jiwa yang dimenangkan. Sehingga ”peng-exodus-an” dari gereja yang satu ke gereja yang lain mewarnai program pertumbuhan gereja.
Menyikapi hal ini perlu dibentuk komunitas antar gereja yang bisa lebih maksimal menjadi alat komunikasi antar gereja. Sehingga jika terjadi perselisihan antar gereja dapat ditengahi dan di damaikan. Selain hal itu sekolah-sekolah tinggi teologi yang ada di Indonesia yang menghasilkan pemimpin-pemimpin gereja hendaknya membekali mahasiswa dengan kode etik pelayanan yang relevan dengan pergumulan ini. Mau-tidak mau munculnya polemik antar gereja ini juga dampak mudahnya penerimaan dan kelulusan mahasiswa teologi. Jumlah lulusan teologi jauh lebih banyak ketimbang jumlah gereja yang mampu menampung mereka, sehingga lulusan-lulusan teologi tersebut mengincar gereja-gereja yang sudah mapan demi kehidupannya.
4.Sikap Mengembangkan Kerukunan.
Yesus adalah Raja Damai, umatnya adalah duta-duta perdamaian. Tetapi sayang antara pemahaman iman yang diyakini dengan iman yang dijalankan sering tidak sejalan. Menciptakan kerukunan antar gereja sangat penting. Yesus sendiri mengatakan supaya umat-Nya menjadi satu sehingga dunia tahu bahwa mereka benar-benar umat Allah. (Yoh 17). Kerukunan inilah yang mesti dikembangkan oleh setiap gereja, terutama dalam aras pemimpin-pemimpin gereja. Biasanya jemaat mudah untuk disatukan, tetapi justru pemimpin-pemimpin gereja yang sulit untuk disatukan. Kerukunan hidup yang ditunjukkan oleh gereja ini sebenarnya akan membuka ruang lebih luas bagi pemberitaan Injil.
5.Membangun ke Luar dan ke Dalam Secara Berimbang.
Ada beberapa gereja yang lebih mengutamakan pembangunan ke dalam, dalam arti mereka giat melayani, rela mempersembahkan harta, tetapi itu masih sebatas untuk membangun denominasinya sendiri atau gerejanya sendiri. Di sisi lain ada yang begitu giat mengadakan pembangunan ke luar, sementara jemaat yang dilayani sendiri banyak yang masih dalam kekurangan. Akan sangat indah jika masing-masing gereja dari berbagai denominasi bisa mengembangkan jejaring, yang kuat menanggung yang lemah, tentu berita Injil akan lebih cepat tersebar di bumi Indonesia ini.


















BAB III
PENUTUP
Akhir-akhir ini gerakan mewujudkan kesatuan gereja semakin kuat. Tetapi bisa jadi kesatuan itu merupakan wujud keputusasaan setelah konflik demi konflik tidak terselesaikan. Sikap toleran cenderung menafikan hal-hal esensial sehingga Saksi Yehowa, Mormonisme, dan sinkretisme diterima sebagai bagian gereja yang sah yang terdaftar di Depag RI, dan khususnya Mormonisme diterima menjadi anggota sah PGI dengan nama Gereja Orang-orang Suci Zaman Akhir. Sebenarnya kesatuan yang bagaimana yang mesti diterima atau ditolak?
Swan menyebutkan: ”hanya teologi Salib yang mencakup keseluruhan implikasi kematian Kristus yang menyelamatkan itulah yang cukup memadai untuk menjadi tameng melawan berbagai kompromi teologis.”29 Sedangkan Gultom menjabarkan lebih jelas bentuk ujian terhadap suatu ajaran, apakah ajaran itu bisa diterima atau ditolak:
1.Tes Bibliologis: apakah sesuai dengan prinsip-prinsip alkitabiah.
2.Tes Kristologis: Apakah bersentral kepada doktrin Kristus yang alkitabiah.
3.Tes Soteriologis: Apakah sungguh-sungguh sejalan dengan sejarah keselamatan.30

Walaupun keragaman membawa beberapa kelemahan, namun keragaman adalah suatu yang tak terelakkan, membawa juga nilai-nilai positif di dalamnya. Paul Hidayat merefleksikan kesatuan dalam keragaman sebagai berikut:
Kesatuan yang menghapus keanekaan akan merosot menjadi keseragaman robot-robot. Keanekaan yang berkembang memporakporandakan kesatuan menjadi liar dan membuat gereja menjadi sarang penggarong, seperti... hiruk pikuk, seperti... macet total,... menyerobot ruang gerak yang ada.31

Lebih jauh ia mengatakan bahwa dengan keragaman itu, setiap orang Kristen pasti memiliki kontribusi. “tidak ada orang Kristen yang miskin potensi, sepi arti, hampa karunia.”32 Alkitab mengatakan keragaman itu untuk membangun jemaat, bukan membangun diri, memperkaya sesama bukan memperkaya diri. Paulus mengatakan: “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1 Kor 12:7).
























Daftar Pustaka
Aritonang, Yan, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006.

Becker, Dieter, Pedoman Dogmatika, Suatu Kompendium Singkat, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001.

End, Th., Van Den, Harta dalam Bejana, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001.

Gultom, Junifrius, Merajut Keberagaman Berteologi di GBI, Jurnal Teologi Gnosis, Nomor 1, Badan Pekerja Daerah Gereja Bethel Indonesia DKI Jakarta, Jakarta, 2004.

Gultom, Junifrius, Sekitar Pengajaran Sesat dan Ekstrim, Makalah Seminar Sidang Majelis Daerah Jawa Tengah, Salatiga, 2006.

Harimurti, FX. Jeffry, Pembimbing Teologi Sistematika I, STT Diakonos, Banyumas, 2007.

Harimurti, FX. Jeffry, Sejarah Gereja Asia, STT Diakonos, Banyumas, 2007.

Hidayat, Paul, Menerbangi Terowongan Cahaya, Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2002.

Lukito, Daniel Lukas, Meninjau Ulang Fundamentalisme Kristen, Jurnal Veritas Volume 2 Nomor 1, Sekolah Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001.

Putera, Eka Darma, Etika Sederhana Untuk Semua, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000.

Shaw, Mark, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, Momentum, Surabaya, tt.

Hutabarat, Sony, Sebuah Lembaga Penginjilan di Banyumas di Tinggalkan Orang-orang yang Dilayaninya Setelah Tahu Nama Mereka di Jual. www. Rumah Bapaku. Blogspot.com.

Warren, Rick, Purpose Driven Life, Gandum Mas, Malang, 2004.