Bukti-bukti Kepalsuan Injil Barnabas
Sebuah buku yang disebut sebagai Injil Barnabas sering digunakan sebagai referensi oleh beberapa orang untuk menyerang kekristenan. Terutama beberapa golongan muslim menganggap Injil ini lebih otentik ketimbang kitab Injil yang diterima oleh gereja. Alasan beberapa golongan ini dikarenakan isi di dalamnya sangat mendukung Alquran. Akan tetapi tidak semua muslim sepakat dalam hal ini, karena banyak juga golongan muslim yang menolak keaslian injil ini, karena di dalamnya ada juga bagian-bagian yang bertentangan dengan Alquran. Berikut ini bukti-bukti kepalsuan Injil Barnabas.
1. Kontradiksi mengenai gelar Mesias.
Pada bagian pendahuluan tertulis demikian:
INJIL YANG BENAR TENTANG YESUS YANG BERGELAR KRISTUS, SEORANG NABI BARU YANG DIUTUS ALLAH KE DUNIA: MENURUT URAIAN BARNABAS, RASULNYA.
Barnabas, rasul Yesus orang Nazaret yang bergelar Kristus, beramanat kepada segenap umat, yang berbenah di persada bumi menginginkan kedamaian serta penghiburan.
Barnabas, rasul Yesus orang Nazaret yang bergelar Kristus, beramanat kepada segenap umat, yang berbenah di persada bumi menginginkan kedamaian serta penghiburan.
Pada bagian in menyebutkan secara jelas bahwa Yesus bergelar Kristus yang merupakan terjemahan bahasa Yunani dari kata Mesias bahasa Arami, yang artinya Yang diurapi. Namun kemudian gelar ini disangkalnya sendiri di pasal 96. "Demi Allah, pada diri-Nya, jiwaku berdiri, bahwa Aku bukanlah Mesias itu"
tampak jelas bahwa penulis Injil Barnabas ini tidak mengenal bahasa Yunani maupun Ibrani (arami). Kristus adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani/arami Mesias (Mesiakh). Sungguh sangat aneh jika Barnabas mengakui Yesus adalah Kristus, tetapi menolak Yesus adalah Mesias. Apalagi kedua bahasa ini merupakan bahasa percakapan sehari-hari yang digunakan di zaman Yesus.
2. Kontradiksi dalam hal sumpah.
Dalam tradisi Yahudi, terlebih lagi dalam tradisi imam, seseorang tidak akan mudah bersumpah mengatas namakan Allah. Pada masa itu ada ketakutan yang luar biasa dalam diri orang Yahudi untuk mengucapkan kata Allah, apa lagi bersumpah. Dalam sepanjang kitab-kitab PB, tidak ada sumpah mengenai ajaran seperti ini. Demikian juga dalam kitab-kitab apokripha, model sumpah seperti ini belum dikenal sama sekali. Ayat sumpah ini malahan mirip dengan modelnya nabi Muhamad bersumpah dalam mengajarkan agamanya. Oleh karena itu, dapat disimpulka bahwa penulis ini lebih dipengaruhi budaya nabi Muhamad daripada budaya yang berkembang pada masa itu.
3. Kesalahan dalam Tradisi Yahudi Pasal 152
"Injil" ini menceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke Bait Allah di Yerusalem dan para militer Romawi datang masuk ke rumah ibadah itu untuk mengganggu Dia.
agama Yahudi melarang orang kafir untuk masuk ke bait Allah. Termasuk orang-orang Romawi. Untuk menjaga agar tidak terjadi pemberontakan terhadap Romawi, maka orang-orang Romawi menghargai kebijakan ini, sehingga mereka tidak akan masuk ke dalam Bait Allah. Di Bait Allah memiliki penjaga tersendiri yang disebut dengan penjaga Bait Allah. Jadi kalau sampai ada orang romawi masuk bait Allah, apalagi sampai menggangu ibadahnya orang Yahudi, bisa terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap Romawi. Hal ini terjadi terhadap kekuasaan Yunani era wangsa Makabe. Tentara Romawi masuk, dan menghancurkan bait Allah, kemudian mempersembahkan persembahan berhala baru terjadi pada tahun 70 masehi, 40 tahun setelah Yesus disalib. Peristiwa ini terjadi setelah orang-orang Yahudi yang melancarkan pemberotakan lebih dahulu. Penghancuran bait Allah orlah tentara Romawi di bawah Jenderal Titus ini untuk menghilangkan rasa symbol Nasionalisme Yahudi, sehingga dikemudian hari mereka tidak memberontak lagi. Peristiwa ini jauh-jauh hari sudah dinubuatkan oleh kitab Injil.
Hal ini membuktikan bahwa penulis Injil ini tidak tahu sejarah, dan tidak mengenal peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus.
4. Kesalahan dalam Tradisi Yahudi dan Sejarah. pasal 144-150.
Pasal ini menceritakan orang farisi hidup membiara, tidak kawin, ayat ini juga mengatakan bahwa orang farisi sudah ada sejak zaman nabi elia, dan berjumlah 17.000. Rupa-rupanya disamping tidak menguasai sejarah Yahudi penulis Injil Barnabas juga tidak menguasai Alkitab. Jadi kemungkinan penulis Barnabas hanya mengenal sedikit-sedikit tentang kekristenan.
Fakta sejarah mengatakan bahwa orang farisi tidak hidup membiara, bahkan untuk menjadi orang farisi dia harus kawin. Golongan Yahudi yang hidup mirip dengan kehidupan biara adalah orang-orang eseni. Rupa-rupanya penulis Injil Barnabas ini terkecoh antara orang Farisi dengan orang Esseni, jika Injil Barnabas benar ada di abad 1 dan ditulis oleh Rasul Barnabas, maka tidak mungkin ia akan terkecoh seperti ini, karena Barnabas adalah orang Lewi.
Dalam hubungannya dengan Elia, rupa-rupanya ia dikacaukan dengan 7000 orang-orang yang setia terhadap Allah dan tidak mau menyembah Baal. 7000 orang ini adalah orang yang secara tersembunyi tetap memuja Allah Israel.Jumlahnya bukan 17000, tetapi 7000. sedangkan Farisi adalah sekte Yahudi yang muncul pada abad kedua sebelum masehi. Yaitu sekitar 200 tahun setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan. Sebagai reaksi atas kompromi yang banyak dikerjakan oleh orang Israel lain dalam kekuasaan Yunani. Pada masa itu tidak ada nabi, karena Tuhan tidak lagi menyampaikan firmanNya. Sedangkan Elia hidup pada abad 8 sebelum masehi. Sehingga antara Elia dan farisi terpaut jarak 6 abad.
Tulisan ini merupakan bukti betapa simpang siurnya data penulis Injil Barnabas. Ia tidak tahu sejarah Yahudi sama sekali.
5. Kesalahan Sejarah. Pasal 3
Pasal 3 menyebutkan kelahiran Yesus adalah pada masa pemerintahan Pontius Pilatus yang menjabat sebagai wali negeri atau gubernur Yudea.
Fakta sejarah mengatakan bahwa, Pilatus menjadi wali negeri pada tahun 29 Masehi. Sementara Yudea menjadi propinsi tersendiri pada abad 6 masehi. Yesus lahir pada abad 4 SM. Yudea masih di bawah propinsi Siria dengan gubernurnya Kirinius sejarah membuktikan bahwa memang benar sekitar tahun itu ia menjadi wali negeri Siria. Membuktikan bahwa penulis Injl Barnabas tidak mengenal peristiwa sejarah pada zaman Yesus, dan tidak mengenal Perjanjian Baru, sedangkan Injil secara akurat menjelskan fakta-fakta sejarah.Pilatus tidak berkuasa pada zaman Yesus lahir, melainkan zaman Yesus disalibkan.
6. Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 20.
Pasal ini menyebutkan: “Maka pergilah Yesus ke laut Galilea, dan turunlah ia ke dalam sebuah perahu untuk berlayar ke Nazaret, kotanya (Yesus went to the sea of Galilee and having embarked in a ship sailed to his city of Nazareth); Dalam pada itu terjadilah taufan besar di laut sehingga nyaris menenggelamkan perahu tersebut.”
Ayat ini merupakan lelucon pemalsuan yang sangat ceroboh. Nazareth adalah dataran tinggi, sehingga tidak ada lautnya. Jadi tidak mungkin naik perahu ke Nazareth. Sedangkan Danau Galilea, jaraknya 20 KM dengan Nazaret. Tidak mungkin Murid Yesus yang asli tidak tahu hal ini. Oleh karena itu penulis Injil Barnabas dipastikan tidak tahu menahu keadaan geografis Palestina.
7. Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 21 :
Pasal ini menyebutkan: ”Mendakilah Yesus ke Kapernaum, seraya pula ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kubur-kubur itu, kerasukan setan dan tidak ada satu rantai pun yang mengikatnya karena parahnya sehingga menyebabkan bahaya bagi banyak orang. Maka menjeritlah Setan-setan dari mulutnya, katanya :"Ya Kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita ?"
Pasal ini menyebutkan: ”Mendakilah Yesus ke Kapernaum, seraya pula ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kubur-kubur itu, kerasukan setan dan tidak ada satu rantai pun yang mengikatnya karena parahnya sehingga menyebabkan bahaya bagi banyak orang. Maka menjeritlah Setan-setan dari mulutnya, katanya :"Ya Kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita ?"
Paswal ini adalah kelanjutan dari pasal sebelumnya. Jadi ayat ini mengisahkan bahwa setelah berlayar dari danau galilea ke Nazareth, kemudian Yesus mendaki ke Kapernaum. Faktanya Kapernaum adalah kota pantai yang lebih rendah dari nazareht. Mestinya turunlah Yesus ke kapernaum bukan mendaki. Danau galilea juga sering disebut dengan danau kapernaum. Ini artinya penulis Injil Barnabas tidak mengetahui keadaan geografis Israel. Tidak mungkin rasul Yesus yang hilir mudik di kapernaum dan nasaret tidak tahu hal ini.
8. Injil Barnabas berisi dongeng-dongeng yang tidak masuk akal.
Dongeng itu antara lain manusia memiliki puser itu dikarenakan diludahi setan. Ada sembilan tingkatan langit, dan Yesus yang berdoa agar setan diampuni dosanya. Ini nampaknya sejajar dengan dongeng dalam Islam yang mengatakan bahwa buah kuldi yang dimakan Adam berhenti ditenggorokan maka menjadi jakun, sedang yang dimakan Hawa berhenti di dada, maka menjadi payudara.
9. Kekacauan antara sejarah Yahudi dengan sejarah gereja mengenai Tahun Yobel.
Pasal 82 menyebutkan: Sesudah sembahyang malam murid-murid datang mendekat kepada Yesus, kemudian Yeus bersabda: "Malam ini tepat waktunya bagi Messias, Pesuruh Allah itu, akan menjadikan tahun Yobel dirayakan tiap-tiap tahun, yang sekarang ini jatuh pada setiap 100 tahun" ("This night shall be the time of Messiah, messenger of God, the Jubilee every year that now cometh hundredyear")
Tahun Yobel adalah hari perayaan ibrani setiap 50 tahun sekali. Yaitu suatu tahun dimana terjadi pembebasan para budak, tahun pembebasan tanah yang digadaikan.
Penetapan tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun sekali merupakan penetapan yang baru ada pada masa Paus Bonifacius VIII (1300), Tetapi setelah itu mengalami beberapa penetapan tahun yang berbeda, mulai dari Paus Clement VI (1340) menetapkan setiap 50 tahun sekali, dan Paus Paulus II (1470) menetapkan setiap 25 tahun sekali, barulah Paus Sixtus V (1585-1590) kembali menetapkan tahun Yobel setiap 100 tahun sekali, sekaligus memperingati pengangkatannya sebagai paus.
Tahun Yobel adalah hari perayaan ibrani setiap 50 tahun sekali. Yaitu suatu tahun dimana terjadi pembebasan para budak, tahun pembebasan tanah yang digadaikan.
Penetapan tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun sekali merupakan penetapan yang baru ada pada masa Paus Bonifacius VIII (1300), Tetapi setelah itu mengalami beberapa penetapan tahun yang berbeda, mulai dari Paus Clement VI (1340) menetapkan setiap 50 tahun sekali, dan Paus Paulus II (1470) menetapkan setiap 25 tahun sekali, barulah Paus Sixtus V (1585-1590) kembali menetapkan tahun Yobel setiap 100 tahun sekali, sekaligus memperingati pengangkatannya sebagai paus.
10. Kontradiksi Injil Barnabas dengan Alquran.
a. Barnabas menyebut dirinya rasul Yesus Kristus. Dalam tradisi Islam, rasul juga adalah nabi, tetapi nabi belum tentu rasul. Manusia tidak memiliki rasul, tetapi hanya Allah yang memiliki rasul. Oleh karena itu, ketika Barnabas mengaku bahwa ia rasul Kristus, menandakan bahwa hal itu bertentangan dengan Alquran. Padahal setiap orang muslim percaya bahwa ajaran Yesus yang asli (Injil) tidak bertentangan dengan Alquran. Ini berarti penulis kitab Barnabas ini adalah orang Islam yang baru saja bertobat, sehingga tidak mengenal betul ajaran islam.
b. Barnabas menyebutkan bahwa tingkat langit ada sembilan. Sementara Alquran menyebutkan bahwa tingkat langit ada tujuh
c. Kitab Barnabas menyetakan bahwa Mariam tidak mengalami sakit bersalin ketika melahirkan Yesus, sementara Alquran mengatakan bahwa Mariam mengalami sakti bersalin yang luar biasa ketika akan melahirkan Isa.
d. Quran mengatakan mengakui gelar Isa sebagai Almasih (Mesias), sedangkan Injil Barnabas tidak mengakui Isa sebagai Mesias, malahan mengatakan bahwa Muhamad itulah Mesias.
e. Injil Barnabas menolak poligami (pasal 116) sedangkan Alquran menerima poligami.
f. Injil Barnabas pasal 137 mengakui adanya api penyucian dimana orang yang dineraka jika telah memenuhi siksaan akan masuk kesurga sedangkan Alquran menolak adanya api penyucian. Orang yang sudah dineraka tidak akan mendapatkan pengampunan.
Ole karena itu umat islam yang mengetahui benar tentang Injil Barnabas menolak keaslian Injil ini. Seperti dikutip dalam ensiklopedi Islam oleh Herlianto Yayasan Bina Awam
"Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan .... Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu." Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: "Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan "al-Masi'ah" yang Islam tidak membenarkannya. Selain ia merupakan pemikiran yang asing dalam sejarah kekeramatan, gaya bahasanya cenderung mengejek Injil, sebagaimana tulisan-tulisan Baha' al-Allah terhadap al-Quran." (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.53).
Kesimpulan
Penulis Injil Barnabas sesungguhnya tidak mengenal betul kekristenan maupun Islam yang sesungguhnya. Meskipun kemungkinan besar dapat dipastikan bahwa ia orang Islam, tetapi ia tidak mengerti ajaran Islam yang sesungguhnya.
Penulis Injil Barnabas tidak hidup pada zaman Yesus, dan bukan murid Yesus yang tinggal di Palestina, hal itu terbukti dia tidak mengenal geografi palestina, dan sejarah Palestina pada masa itu.
Menerima Injil Barnabas sebagai ajaran Yesus yang sesungguhnya berarti bukan saja menolak kebenaran Kitab Injil Perjanjian Baru, tetapi juga menolak kebenaran Alquran. Hal ini dibuktikan bahwa banyak ulama-ulama dan cerdik-cendekia muslim yang menolak Injil Barnabas.
Sumber-sumber:
Injil Barnabas Suatu Kesaksian palsu, A.Q Jazin Libanon.
Injil Barnabas, Herlianto, M.Th. Yayasan Bina Awam
Injil Barnabas, Bambang Nursena.

No comments:
Post a Comment