Thursday, November 19, 2009

Tokoh Agama Berpola Pikir Sara

Mengapa saya memposting dengan judul ini?
Karena kenyataan banyak tokoh-tokoh agama miliki pola pikir yang bernuansa sara. banyak tokoh-tokoh agama yang sudah terkenal, di aras nasional, tetapi gampang terpengaruh, terprovokasi, sehingga memprovokasi pula. Ketika lantang berseru-seru: "si Anu, atau Negara Anu berstandard ganda!" dirinya juga berstandard ganda.
Lihat ketika mereka meminta memblokir Faith Fredoom, karena melecehkan agama mereka, mengapa Answering Faith Fredoom tidak diminta di blokir, karena juga melecehkan agama lain, atau Swara Muslim yang juga melecehkan agama lain, tidak diminta di blokir. ini berarti sudah berpola pikir sara, artinya ketika ada golongan lain yang melecehkan agamanya, segera bersikap marah, dan menolak, dll, tetapi ketika ada golongannya yang melakukan pelecehan pada agama lain di biarkan saja. contoh lain adalah mereka menuding orang-orang Kristen melakukan Kristenisasi, dan orang Kristen tidak boleh melakukan penginjilan, tetapi mereka melakukan dakwah yang berarti juga islamisasi.ini standard ganda. orang lain tidak boleh melakukan tetapi mereka boleh bebas melakukan.
Yang menarik pagi-pagi baca berita di Yahoo, MUI lokal daerah tertentu menyerukan untuk tidak menonton film 2012, dan MUI Pusat menyuruh menyensor adegan Masjid roboh, karena dianggap pelecehan terhadap agama, dan menurutnya bernuansa Sara. Nah pendapatnya (Jika Benar Pendapatnya) karena ada masjid yang roboh itu ia katakan bernuansa sara, tetapi gereja vatikan yang roboh, dan tokoh-tokoh agama-agama lain yang yang bergelimpangan, tidak disebut itu juga bernuansa sara. berarti Ia berpola pokir sara. lucu juga pagi-pagi udah denger berita yang aneh begini.
Seruan saya pada tokoh-tokoh agama manapun, Isu sara itu seringkali justru dari Atas, orang-orang kecil sebenarnya gak mempermasalahkan itu. hanya sering mereka sebagai korban provokasi. yang meniupkan angin sara sesungguhnya tokoh-tokoh panutan. jika panutannya seperti itu bagaimana yang menganut?

Wednesday, November 4, 2009

PRO-KONTRA NATAL

Hari raya terbesar kristiani yang dirayakan paling meriah masa-masa sekarang ini adalah Natal, yaitu hari peringatan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah lahir ke dunia. Terkadang pesta perayaan hari tersebut dilaksanakan dengan meriah oleh bukan saja orang-orang Kristen, tetapi juga orang-orang non Kristen. Negara Malaysia dan Singapura misalnya yang mayoritas penduduknya tidak beragama Kristen mereka menjadikan hari Natal sebagai sebuah hari yang dirayakan secara besar-besaran, karena menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Sementara itu, disisi lain muncul di dalam tubuh kekristenan penolakan terhadap perayaan Natal. Ada dua alasan utama sebagai dasar penolakan mereka. Yaitu:
Yang pertama: perayaan Natal tidak ada dalam Alkitab dan Yesus sendiri tidak pernah memerintahkan agar merayakan hari kelahiran-Nya.
Yang kedua Dengan merayakan hari Natal yang telah ditetapkan pada tanggal 25 Desember bagi mereka sama dengan merayakan penyembahan kepada dewa matahari, karena tanggal 25 Desember sesungguhnya bukan hari kelahiran Yesus, tetapi hari perayaan kelahiran matahari yang dipuja dengan ritual kafir oleh penduduk kota Roma kuno. Ketika Kekaisaran Romawi berhasil dikristenkan, perayaan penyembahan bagi dewa matahari itu diubah untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus Kristus.
Melalui BMM ini penulis mencoba memberikan pendapatnya untuk dikaji bersama.
Jika alasan pertama yaitu tidak tertulis dalam Alkitab dan tidak disuruh oleh Tuhan Yesus maka tidak boleh dilakukan, maka seharusnya setiap hal yang tidak tertulis di Alkitab dan tidak disuruh Yesus juga tidak boleh dilakukan. Misalnya, Yesus tidak pernah secara langsung menyuruh untuk membangun gedung gereja, demikian juga para rasul tidak pernah menulis untuk umat Kristen membangun gedung gereja, jadi masyarakat Kristen tidak boleh membangun gedung gereja. Yang lebih parah lagi Yesus tidak pernah menyuruh untuk mengkanonkan Alkitab demikian juga para rasul, maka kanon Alkitab seharusnya tidak boleh diterima. Rupa-rupanya pembangunan gedung gereja sebagai tempat ibadah merupakan hasil pengembangan budaya yang baik dari gereja, berdasarkan kebutuhan, demikian juga pengkanonan Alkitab. Jadi dengan dasar pemikiran ini, alasan yang pertama tidak memenuhi criteria sebagai dasar penolakan terhadap peryaan Natal
Alasan yang ke dua, yaitu tanggal 25 Desember adalah hari perayaan dewa Matahari, maka jika merayakan Natal sama dengan merayakan dewa matahari penulis menjawab demikian. Ketika kita dipanggil sebagai orang Kristen, kita tidak serta merta dipisahkan dari dunia ini. Justru kita diutus kedunia ini untuk mewarnai dunia dengan pemikiran dan budaya kristiani. Kita tidak dituntut untuk menghancurkan budaya, tetapi memperbaharui budaya.
Budaya bukanlah dosa, juga bukan kudus, tetapi bersifat netral pada hakikatnya. Budaya adalah hasil berpikir dan berikhtiar manusia, yang kemudian menjadi suatu pola kebiasaan yang dilakukan terus menerus. Kemampuan manusia untuk berpikir dan berikhtiar adalah anugerah Tuhan. Hanya saja budaya itu telah tercemar dosa, kita dipanggil untuk memperbaharui budaya tersebut  dengan pemikiran kristeni. Contoh praktis yang juga terdapat dalam Alkitab adalah hari Raya Purim. Hari raya ini tidak disebutkan dalam kitab Taurat, tetapi hari raya ini muncul akibat budi daya (kebudayaan) orang-orang Yahudi yang mempertahankan eksistensinya dari genocide yang dirancang oleh Haman(baca Kitab ester).
Kesimpulan dari hal ini, manusia dalam menjalani kehidupan dituntut berpikir dan berusaha. Hasil dari ikhtiar manusia itu menjadi budaya. Demikian juga dengan gereja. Gereja menghasilkan budaya, walaupun tidak semua budaya gereja tetap relevan sepanjang masa, tetapi budaya yang baik perlu dipertahankan. Natal adalah budaya yang baik, dimana merupakan wahana untuk kembali mengingat ketulusan Yesus, kerelaan Yesus yang menderita bagi keselamatan manusia. Peringatan Natal juga merupakan salah satu wahana untuk bersaksi bagi Tuhan.
Kesimpulan dari hal ini adalah meskipun ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan momen Natal untuk sesuatu yang tidak bernilai kekal, tetapi peringatan Natal secara hakikinya memiliki faedah keimanan yaitu suatu momen bagi kita umat Kristiani untuk mengingat Juru Selamat kita. Mungkin ada orang yang berkata “saya setiap hari mengingat akan ketulusan Yesus yang rela datang ke dunia dengan misi penyelamatan kita.” penulis setuju dengan hal ini, tetapi mengingat manusia terbatas, terkadang alpa, maka diperlukan alat bantu untuk mengingat kembali. Perlu ada suatu momen khusus untuk menolong kita kembali menghayati secara lebih dalam Kristus Tuhan kita.
Namun demikian, meskipun penulis setuju dengan perayaan Natal, penulis juga berkesimpulan adalah tidak bijaksana jika Natal menonjolkan budaya konsumerisme dan hedonisme, apalagi ditengah-tengah masyarakat bangsa kita yang sedang prihatin.


Monday, November 2, 2009

STT SETIA

 
STT SETIA 
Nasibmu Kini
 
Setelah terkatung-katung atas ketidakadilan di negeri sendiri. oleh karena ada segelintir manusia berjubah agama, sehingga merasa berhak memberangus martabat manusia lain, yang berbeda keyakinan.  dan anehnya tidak ada aparat dari yang terkecil hingga tertinggi yang memperjuangkannya, dari RT hingga Presiden. tidak ada sedikitpun janji-janji kampanye yang menyebutkan kata SETIA, seakan-akan SETIA tidak ada artinya lagi di bumi ini. 
apa kejahatan yang dilakukan SETIA sehingga tempatnya diberi garis Polisi. bukankan mereka yang menyerang yang semestinya terusir dari bumi pertiwi. Apakah negeri ini hanya milik sekelompok agama? apakah hanya 1 agama yang boleh menjadi tuan atas negeri ini, sementara agama-agama yang lain harus tertunduk bersimpuh memohon belas kasihan tuan penguasa?
Apa begitu besar dosa SETIA sampai ia harus terusir dari tanah miliknya sendiri yang sah dibelinya dengan uang yang bukan curian atau hasil korupsi?
bagaimana perasaan Anda jika itu terjadi pada Saudara Anda?
bagaaimana perasaan Anda jika itu terjadi pada agama Anda? 
sementara penjahat yang sesungguhnya yang memaksakan kehendak dengan kekerasan berjubah agama melenggang lenggok dengan pongahnya karena tidak ada kuasa yang sanggup untuk menjamahnya. tidak ada aparat yang cukup bergigi untuk berani menyentuh jubah yang maha suci yang mereka tiap hari puja dan puji. ah ya bukankah SETIA berdekatan dengan Markas angkatan bersenjata? yang tugasnya melindungi warga? pada kemana mereka? 
"STT SETIA sudah meresahkan warga" kata mereka. tetapi lihat bung, dulu tempat itu adalah tempat sepi yang tidak ada orang yang meminati. STT SETIA lah yang menggeliatkan ekonomi, sehingga dari desa yang sepi menjadi ramai dikunjungi.  bukankah STT SETIA lebih dahulu ada disana dari pada sebagian besar warga?
lalu siapa yang mengganggu siapa?
OK SETIA mau mengalah, dan berniat untuk pindah. tetapi hingga kini janji-janji tidak juga kunjung ditepati. dengan mulut manis membujuk agar SETIA mengalah dan pindah. nanti akan diganti dengan tempat yang lebih baik katanya, tetapi mana? janji itu hanya angin lalu berbau busuk yang segera tersebar hilang tertiup angin. 
 

Monday, October 26, 2009

Injil Barnabas

Bukti-bukti Kepalsuan Injil Barnabas
Sebuah buku yang disebut sebagai Injil Barnabas sering digunakan sebagai referensi oleh beberapa orang untuk menyerang kekristenan. Terutama beberapa golongan muslim menganggap Injil ini lebih otentik ketimbang kitab Injil yang diterima oleh gereja. Alasan beberapa golongan ini dikarenakan isi di dalamnya sangat mendukung Alquran. Akan tetapi tidak semua muslim sepakat dalam hal ini, karena banyak juga golongan muslim yang menolak keaslian injil ini, karena di dalamnya ada juga bagian-bagian yang bertentangan dengan Alquran. Berikut ini bukti-bukti kepalsuan Injil Barnabas.

1.      Kontradiksi mengenai gelar Mesias.
Pada bagian pendahuluan tertulis demikian:
INJIL YANG BENAR TENTANG YESUS YANG BERGELAR KRISTUS, SEORANG NABI BARU YANG DIUTUS ALLAH KE DUNIA: MENURUT URAIAN BARNABAS, RASULNYA.
Barnabas, rasul Yesus orang Nazaret yang bergelar Kristus, beramanat kepada segenap umat, yang berbenah di persada bumi menginginkan kedamaian serta penghiburan.

Pada bagian in menyebutkan secara jelas bahwa Yesus bergelar Kristus yang merupakan terjemahan bahasa Yunani dari kata Mesias bahasa Arami, yang artinya Yang diurapi. Namun kemudian gelar ini  disangkalnya sendiri di pasal 96. "Demi Allah, pada diri-Nya, jiwaku berdiri, bahwa Aku bukanlah Mesias itu"
tampak jelas bahwa penulis Injil Barnabas ini tidak mengenal bahasa Yunani maupun Ibrani (arami). Kristus adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani/arami Mesias (Mesiakh). Sungguh sangat aneh jika Barnabas mengakui Yesus adalah Kristus, tetapi menolak Yesus adalah Mesias. Apalagi kedua bahasa ini merupakan bahasa percakapan sehari-hari yang digunakan di zaman Yesus.

2.      Kontradiksi dalam hal sumpah.
Dalam tradisi Yahudi, terlebih lagi dalam tradisi imam, seseorang tidak akan mudah bersumpah mengatas namakan Allah. Pada masa itu ada ketakutan yang luar biasa dalam diri orang Yahudi untuk mengucapkan kata Allah, apa lagi bersumpah. Dalam sepanjang kitab-kitab PB, tidak ada sumpah mengenai ajaran seperti ini. Demikian juga dalam kitab-kitab apokripha, model sumpah seperti ini belum dikenal sama sekali. Ayat sumpah ini malahan mirip dengan modelnya nabi Muhamad bersumpah dalam mengajarkan agamanya. Oleh karena itu, dapat disimpulka bahwa penulis ini lebih dipengaruhi budaya nabi Muhamad daripada budaya yang berkembang pada masa itu.

3.      Kesalahan dalam Tradisi Yahudi Pasal 152
"Injil" ini menceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke Bait Allah di Yerusalem dan para militer Romawi datang masuk ke rumah ibadah itu untuk mengganggu Dia.
agama Yahudi melarang orang kafir untuk masuk ke bait Allah. Termasuk orang-orang Romawi. Untuk menjaga agar tidak terjadi pemberontakan terhadap Romawi, maka orang-orang Romawi menghargai kebijakan ini, sehingga mereka tidak akan masuk ke dalam Bait Allah. Di Bait Allah memiliki penjaga tersendiri yang disebut dengan penjaga Bait Allah. Jadi kalau sampai ada orang romawi masuk bait Allah, apalagi sampai menggangu ibadahnya orang Yahudi, bisa terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap Romawi. Hal ini terjadi terhadap kekuasaan Yunani era wangsa Makabe. Tentara Romawi masuk, dan menghancurkan bait Allah, kemudian mempersembahkan persembahan berhala baru terjadi pada tahun 70 masehi, 40 tahun setelah Yesus disalib. Peristiwa ini terjadi setelah orang-orang  Yahudi yang melancarkan pemberotakan lebih dahulu. Penghancuran bait Allah orlah tentara Romawi di bawah Jenderal Titus ini untuk menghilangkan rasa symbol Nasionalisme Yahudi, sehingga dikemudian hari mereka tidak memberontak lagi. Peristiwa ini jauh-jauh hari sudah dinubuatkan oleh kitab Injil.
Hal ini membuktikan bahwa penulis Injil ini tidak tahu sejarah, dan tidak mengenal peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus.


4.      Kesalahan dalam Tradisi Yahudi dan Sejarah. pasal 144-150.
Pasal ini menceritakan orang farisi hidup membiara, tidak kawin, ayat ini juga mengatakan bahwa orang farisi sudah ada sejak zaman nabi elia, dan berjumlah 17.000. Rupa-rupanya disamping tidak menguasai sejarah Yahudi penulis Injil Barnabas juga tidak menguasai Alkitab. Jadi kemungkinan penulis Barnabas hanya mengenal sedikit-sedikit tentang kekristenan.
Fakta sejarah mengatakan bahwa orang farisi tidak hidup membiara, bahkan untuk menjadi orang farisi dia harus kawin. Golongan Yahudi yang hidup mirip dengan kehidupan biara adalah orang-orang eseni. Rupa-rupanya penulis Injil Barnabas ini terkecoh antara orang Farisi dengan orang Esseni, jika Injil Barnabas benar ada di abad 1 dan ditulis oleh Rasul Barnabas, maka tidak mungkin ia akan terkecoh seperti ini, karena Barnabas adalah orang Lewi.
Dalam hubungannya dengan Elia, rupa-rupanya ia dikacaukan dengan 7000 orang-orang yang setia terhadap Allah dan tidak mau menyembah Baal. 7000 orang ini adalah orang yang secara tersembunyi tetap memuja Allah Israel.Jumlahnya bukan 17000, tetapi 7000. sedangkan Farisi adalah sekte Yahudi yang muncul pada abad kedua sebelum masehi. Yaitu sekitar 200 tahun setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan. Sebagai reaksi atas kompromi yang banyak dikerjakan oleh orang Israel lain dalam kekuasaan Yunani. Pada masa itu tidak ada nabi, karena Tuhan tidak lagi menyampaikan firmanNya. Sedangkan Elia hidup pada abad 8 sebelum masehi. Sehingga antara Elia dan farisi terpaut jarak 6 abad.
Tulisan ini merupakan bukti betapa simpang siurnya data penulis Injil Barnabas. Ia tidak tahu sejarah Yahudi sama sekali.

5.      Kesalahan Sejarah. Pasal 3
Pasal 3 menyebutkan kelahiran Yesus adalah pada masa pemerintahan Pontius Pilatus yang menjabat sebagai wali negeri atau gubernur Yudea.
Fakta sejarah mengatakan bahwa, Pilatus menjadi wali negeri pada tahun 29 Masehi. Sementara Yudea menjadi propinsi tersendiri pada abad 6 masehi. Yesus lahir pada abad 4 SM. Yudea masih di bawah propinsi Siria dengan gubernurnya Kirinius sejarah membuktikan bahwa memang benar sekitar tahun itu ia menjadi wali negeri Siria. Membuktikan bahwa penulis Injl Barnabas tidak mengenal peristiwa sejarah pada zaman Yesus, dan tidak mengenal Perjanjian Baru, sedangkan Injil secara akurat menjelskan fakta-fakta sejarah.Pilatus tidak berkuasa pada zaman Yesus lahir, melainkan zaman Yesus disalibkan.

6.      Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 20.
Pasal ini menyebutkan: “Maka pergilah Yesus ke laut Galilea, dan turunlah ia ke dalam sebuah perahu untuk berlayar ke Nazaret, kotanya (Yesus went to the sea of Galilee and having embarked in a ship sailed to his city of Nazareth); Dalam pada itu terjadilah taufan besar di laut sehingga nyaris menenggelamkan perahu tersebut.”

Ayat ini merupakan lelucon pemalsuan yang sangat ceroboh. Nazareth adalah dataran tinggi, sehingga tidak ada lautnya. Jadi tidak mungkin naik perahu ke Nazareth. Sedangkan Danau Galilea, jaraknya 20 KM dengan Nazaret. Tidak mungkin Murid Yesus yang asli tidak tahu hal ini. Oleh karena itu penulis Injil Barnabas dipastikan tidak tahu menahu keadaan geografis Palestina.

7.      Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 21 :
Pasal ini menyebutkan: ”Mendakilah Yesus ke Kapernaum, seraya pula ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kubur-kubur itu, kerasukan setan dan tidak ada satu rantai pun yang mengikatnya karena parahnya sehingga menyebabkan bahaya bagi banyak orang. Maka menjeritlah Setan-setan dari mulutnya, katanya :"Ya Kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita ?"

Paswal ini adalah kelanjutan dari pasal sebelumnya. Jadi ayat ini mengisahkan bahwa setelah berlayar dari danau galilea ke Nazareth, kemudian Yesus mendaki ke Kapernaum. Faktanya Kapernaum adalah kota pantai yang lebih rendah dari nazareht. Mestinya turunlah Yesus ke kapernaum bukan mendaki. Danau galilea juga sering disebut dengan danau kapernaum. Ini artinya penulis Injil Barnabas tidak mengetahui keadaan geografis Israel. Tidak mungkin rasul Yesus yang hilir mudik di kapernaum dan nasaret tidak tahu hal ini.

8.      Injil Barnabas berisi dongeng-dongeng yang tidak masuk akal.
Dongeng itu antara lain manusia memiliki puser itu dikarenakan diludahi setan. Ada sembilan tingkatan langit, dan Yesus yang berdoa agar setan diampuni dosanya. Ini nampaknya sejajar dengan dongeng dalam Islam yang mengatakan bahwa buah kuldi yang dimakan Adam berhenti ditenggorokan maka menjadi jakun, sedang yang dimakan Hawa berhenti di dada, maka menjadi payudara.

9.      Kekacauan antara sejarah Yahudi dengan sejarah gereja mengenai Tahun Yobel.
Pasal 82 menyebutkan: Sesudah sembahyang malam murid-murid datang mendekat kepada Yesus, kemudian Yeus bersabda: "Malam ini tepat waktunya bagi Messias, Pesuruh Allah itu, akan menjadikan tahun Yobel dirayakan tiap-tiap tahun, yang sekarang ini jatuh pada setiap 100 tahun" ("This night shall be the time of Messiah, messenger of God, the Jubilee every year that now cometh hundredyear")
Tahun Yobel adalah hari perayaan ibrani setiap 50 tahun sekali. Yaitu suatu tahun dimana terjadi pembebasan para budak, tahun pembebasan tanah yang digadaikan.
Penetapan tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun sekali merupakan penetapan yang baru ada pada masa Paus Bonifacius VIII (1300), Tetapi setelah itu mengalami beberapa penetapan tahun yang berbeda, mulai dari Paus Clement VI (1340) menetapkan setiap 50 tahun sekali, dan Paus Paulus II (1470) menetapkan setiap 25 tahun sekali, barulah Paus Sixtus V (1585-1590) kembali menetapkan tahun Yobel setiap 100 tahun sekali, sekaligus memperingati pengangkatannya sebagai paus.


10.  Kontradiksi Injil Barnabas dengan Alquran.
a.       Barnabas menyebut dirinya rasul Yesus Kristus. Dalam tradisi Islam, rasul juga adalah nabi, tetapi nabi belum tentu rasul. Manusia tidak memiliki rasul, tetapi hanya Allah yang memiliki rasul. Oleh karena itu, ketika Barnabas mengaku bahwa ia rasul Kristus, menandakan bahwa hal itu bertentangan dengan Alquran. Padahal setiap orang muslim percaya bahwa ajaran Yesus yang asli (Injil) tidak bertentangan dengan Alquran. Ini berarti penulis kitab Barnabas ini adalah orang Islam yang baru saja bertobat, sehingga tidak mengenal betul ajaran islam.
b.      Barnabas menyebutkan bahwa tingkat langit ada sembilan. Sementara Alquran menyebutkan bahwa tingkat langit ada tujuh
c.       Kitab Barnabas menyetakan bahwa Mariam tidak mengalami sakit bersalin ketika melahirkan Yesus, sementara Alquran mengatakan bahwa Mariam mengalami sakti bersalin yang luar biasa ketika akan melahirkan Isa.
d.      Quran mengatakan mengakui gelar Isa sebagai Almasih (Mesias), sedangkan Injil Barnabas tidak mengakui Isa sebagai Mesias, malahan mengatakan bahwa Muhamad itulah Mesias.
e.       Injil Barnabas menolak poligami (pasal 116) sedangkan Alquran menerima poligami.
f.       Injil Barnabas pasal 137 mengakui adanya api penyucian dimana orang yang dineraka jika telah memenuhi siksaan akan masuk kesurga sedangkan Alquran menolak adanya api penyucian. Orang yang sudah dineraka tidak akan mendapatkan pengampunan.
Ole karena itu umat islam yang mengetahui benar tentang Injil Barnabas menolak keaslian Injil ini. Seperti dikutip dalam ensiklopedi Islam  oleh Herlianto Yayasan Bina Awam
"Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan .... Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu." Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: "Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan "al-Masi'ah" yang Islam tidak membenarkannya. Selain ia merupakan pemikiran yang asing dalam sejarah kekeramatan, gaya bahasanya cenderung mengejek Injil, sebagaimana tulisan-tulisan Baha' al-Allah terhadap al-Quran." (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.53).


Kesimpulan
Penulis Injil Barnabas sesungguhnya tidak mengenal betul kekristenan maupun Islam yang sesungguhnya. Meskipun kemungkinan besar dapat dipastikan bahwa ia orang Islam, tetapi ia tidak mengerti ajaran Islam yang sesungguhnya.
Penulis Injil Barnabas tidak hidup pada zaman Yesus, dan bukan murid Yesus yang tinggal di Palestina, hal itu terbukti dia tidak mengenal geografi palestina, dan sejarah Palestina pada masa itu.
Menerima Injil Barnabas sebagai ajaran Yesus yang sesungguhnya berarti bukan saja menolak kebenaran Kitab Injil Perjanjian Baru, tetapi juga menolak kebenaran Alquran. Hal ini dibuktikan bahwa banyak ulama-ulama dan cerdik-cendekia muslim yang menolak Injil Barnabas.


Sumber-sumber:

Injil Barnabas Suatu Kesaksian palsu, A.Q Jazin Libanon.
Injil Barnabas, Herlianto, M.Th. Yayasan Bina Awam
Injil Barnabas, Bambang Nursena.

Sunday, October 11, 2009


Miyabi 
Bebarapa tokoh agama dan tokoh DPR beramai-ramai menentang kedatangan Miyabi ke Indonesia. Hal ini dikarenakan Miyabi adalah bintang film Porno dari Jepang. Meskipun ke Indonesia dia tidak main film porno, tetapi images/stigma yang dibawa takutnya mencemari moral bangsa.
Secara teoritis saya sangat setuju dengan hal itu. Kita mesti menolak Miyabi main film di Indonesia, karena dengan demikian akan meningkatkan popularitasnya, film-filmnya yang bisa dilihat di Internet, bisa-bisa banyak yang melihatnya. Hanya saja cara-caranya para tokoh agama, alim ulama, dan wakil rakyat  ini yang tidak saya setuju. Mereka dengan mengerahkan masa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, karena akan merusak moral bangsa. Bukankah dengan cara itu Miyabi semakin popular. Kita bisa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, tapi tidak bisa menolak Miyabi datang kerumah-rumah orang Indonesia lewat Internet, dan HP para remaja. Dengan kehebohan penolakkan itu banyak yang tidak tahu menjadi tahu. Yang tidak tertarik menjadi tertarik. Saya yang sering internetan saja, tidak tahu menahu tentang Miyabi, jadinya tahu, dan iseng-iseng mencari nama Miyabi di Google Search.
Tidak bisakah penolakan itu dengan cara diplomasi atau negosiasi. Tidak adakah ahli diplomasi atau negosiasi dikalangan ulama sehingga harus mengerahkan masa? Tidak adakah cara lain selain mengerahkan masa? Saya pikir cara berpolitik yang baik adalah mengedepankan perundingan, negosiasi, pencerahan, dari pada politik Infantilisme, yaitu pengerahan masa. Maaf bukan berarti saya tidak menghormati mereka sebagai tokoh agama dan panutan rakyat. Saya setuju dengan sikap mereka akan penolakan kedatangan Miyabi ke Indonesia untuk main film, tetapi cara-cara pengerahan masa yang menghebohkan yang biasanya dicemari dengan sedikit tindak kekerasan, justru menyebabkan nama Miyabi makin melejit. Saya jadi kuatir anak-anak remaja dan SD yang tidak tahu apa-apa malah membuka-buka situs Miyabi, karena di populerkan oleh para tokoh agama. Setelah kejadian itu, Siapa sekarang yang dapat mencegah kedatangan Miyabi ke Indonesia, bahkan bertamu dirumah-rumah, warnet-warnet, atau HP genggam anak-anak remaja?