Wednesday, November 4, 2009

PRO-KONTRA NATAL

Hari raya terbesar kristiani yang dirayakan paling meriah masa-masa sekarang ini adalah Natal, yaitu hari peringatan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah lahir ke dunia. Terkadang pesta perayaan hari tersebut dilaksanakan dengan meriah oleh bukan saja orang-orang Kristen, tetapi juga orang-orang non Kristen. Negara Malaysia dan Singapura misalnya yang mayoritas penduduknya tidak beragama Kristen mereka menjadikan hari Natal sebagai sebuah hari yang dirayakan secara besar-besaran, karena menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Sementara itu, disisi lain muncul di dalam tubuh kekristenan penolakan terhadap perayaan Natal. Ada dua alasan utama sebagai dasar penolakan mereka. Yaitu:
Yang pertama: perayaan Natal tidak ada dalam Alkitab dan Yesus sendiri tidak pernah memerintahkan agar merayakan hari kelahiran-Nya.
Yang kedua Dengan merayakan hari Natal yang telah ditetapkan pada tanggal 25 Desember bagi mereka sama dengan merayakan penyembahan kepada dewa matahari, karena tanggal 25 Desember sesungguhnya bukan hari kelahiran Yesus, tetapi hari perayaan kelahiran matahari yang dipuja dengan ritual kafir oleh penduduk kota Roma kuno. Ketika Kekaisaran Romawi berhasil dikristenkan, perayaan penyembahan bagi dewa matahari itu diubah untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus Kristus.
Melalui BMM ini penulis mencoba memberikan pendapatnya untuk dikaji bersama.
Jika alasan pertama yaitu tidak tertulis dalam Alkitab dan tidak disuruh oleh Tuhan Yesus maka tidak boleh dilakukan, maka seharusnya setiap hal yang tidak tertulis di Alkitab dan tidak disuruh Yesus juga tidak boleh dilakukan. Misalnya, Yesus tidak pernah secara langsung menyuruh untuk membangun gedung gereja, demikian juga para rasul tidak pernah menulis untuk umat Kristen membangun gedung gereja, jadi masyarakat Kristen tidak boleh membangun gedung gereja. Yang lebih parah lagi Yesus tidak pernah menyuruh untuk mengkanonkan Alkitab demikian juga para rasul, maka kanon Alkitab seharusnya tidak boleh diterima. Rupa-rupanya pembangunan gedung gereja sebagai tempat ibadah merupakan hasil pengembangan budaya yang baik dari gereja, berdasarkan kebutuhan, demikian juga pengkanonan Alkitab. Jadi dengan dasar pemikiran ini, alasan yang pertama tidak memenuhi criteria sebagai dasar penolakan terhadap peryaan Natal
Alasan yang ke dua, yaitu tanggal 25 Desember adalah hari perayaan dewa Matahari, maka jika merayakan Natal sama dengan merayakan dewa matahari penulis menjawab demikian. Ketika kita dipanggil sebagai orang Kristen, kita tidak serta merta dipisahkan dari dunia ini. Justru kita diutus kedunia ini untuk mewarnai dunia dengan pemikiran dan budaya kristiani. Kita tidak dituntut untuk menghancurkan budaya, tetapi memperbaharui budaya.
Budaya bukanlah dosa, juga bukan kudus, tetapi bersifat netral pada hakikatnya. Budaya adalah hasil berpikir dan berikhtiar manusia, yang kemudian menjadi suatu pola kebiasaan yang dilakukan terus menerus. Kemampuan manusia untuk berpikir dan berikhtiar adalah anugerah Tuhan. Hanya saja budaya itu telah tercemar dosa, kita dipanggil untuk memperbaharui budaya tersebut  dengan pemikiran kristeni. Contoh praktis yang juga terdapat dalam Alkitab adalah hari Raya Purim. Hari raya ini tidak disebutkan dalam kitab Taurat, tetapi hari raya ini muncul akibat budi daya (kebudayaan) orang-orang Yahudi yang mempertahankan eksistensinya dari genocide yang dirancang oleh Haman(baca Kitab ester).
Kesimpulan dari hal ini, manusia dalam menjalani kehidupan dituntut berpikir dan berusaha. Hasil dari ikhtiar manusia itu menjadi budaya. Demikian juga dengan gereja. Gereja menghasilkan budaya, walaupun tidak semua budaya gereja tetap relevan sepanjang masa, tetapi budaya yang baik perlu dipertahankan. Natal adalah budaya yang baik, dimana merupakan wahana untuk kembali mengingat ketulusan Yesus, kerelaan Yesus yang menderita bagi keselamatan manusia. Peringatan Natal juga merupakan salah satu wahana untuk bersaksi bagi Tuhan.
Kesimpulan dari hal ini adalah meskipun ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan momen Natal untuk sesuatu yang tidak bernilai kekal, tetapi peringatan Natal secara hakikinya memiliki faedah keimanan yaitu suatu momen bagi kita umat Kristiani untuk mengingat Juru Selamat kita. Mungkin ada orang yang berkata “saya setiap hari mengingat akan ketulusan Yesus yang rela datang ke dunia dengan misi penyelamatan kita.” penulis setuju dengan hal ini, tetapi mengingat manusia terbatas, terkadang alpa, maka diperlukan alat bantu untuk mengingat kembali. Perlu ada suatu momen khusus untuk menolong kita kembali menghayati secara lebih dalam Kristus Tuhan kita.
Namun demikian, meskipun penulis setuju dengan perayaan Natal, penulis juga berkesimpulan adalah tidak bijaksana jika Natal menonjolkan budaya konsumerisme dan hedonisme, apalagi ditengah-tengah masyarakat bangsa kita yang sedang prihatin.


No comments:

Post a Comment