Miyabi
Bebarapa tokoh agama dan tokoh DPR beramai-ramai menentang kedatangan Miyabi ke Indonesia. Hal ini dikarenakan Miyabi adalah bintang film Porno dari Jepang. Meskipun ke Indonesia dia tidak main film porno, tetapi images/stigma yang dibawa takutnya mencemari moral bangsa.
Secara teoritis saya sangat setuju dengan hal itu. Kita mesti menolak Miyabi main film di Indonesia, karena dengan demikian akan meningkatkan popularitasnya, film-filmnya yang bisa dilihat di Internet, bisa-bisa banyak yang melihatnya. Hanya saja cara-caranya para tokoh agama, alim ulama, dan wakil rakyat ini yang tidak saya setuju. Mereka dengan mengerahkan masa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, karena akan merusak moral bangsa. Bukankah dengan cara itu Miyabi semakin popular. Kita bisa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, tapi tidak bisa menolak Miyabi datang kerumah-rumah orang Indonesia lewat Internet, dan HP para remaja. Dengan kehebohan penolakkan itu banyak yang tidak tahu menjadi tahu. Yang tidak tertarik menjadi tertarik. Saya yang sering internetan saja, tidak tahu menahu tentang Miyabi, jadinya tahu, dan iseng-iseng mencari nama Miyabi di Google Search.
Tidak bisakah penolakan itu dengan cara diplomasi atau negosiasi. Tidak adakah ahli diplomasi atau negosiasi dikalangan ulama sehingga harus mengerahkan masa? Tidak adakah cara lain selain mengerahkan masa? Saya pikir cara berpolitik yang baik adalah mengedepankan perundingan, negosiasi, pencerahan, dari pada politik Infantilisme, yaitu pengerahan masa. Maaf bukan berarti saya tidak menghormati mereka sebagai tokoh agama dan panutan rakyat. Saya setuju dengan sikap mereka akan penolakan kedatangan Miyabi ke Indonesia untuk main film, tetapi cara-cara pengerahan masa yang menghebohkan yang biasanya dicemari dengan sedikit tindak kekerasan, justru menyebabkan nama Miyabi makin melejit. Saya jadi kuatir anak-anak remaja dan SD yang tidak tahu apa-apa malah membuka-buka situs Miyabi, karena di populerkan oleh para tokoh agama. Setelah kejadian itu, Siapa sekarang yang dapat mencegah kedatangan Miyabi ke Indonesia, bahkan bertamu dirumah-rumah, warnet-warnet, atau HP genggam anak-anak remaja?

No comments:
Post a Comment