Mengapa saya memposting dengan judul ini?
Karena kenyataan banyak tokoh-tokoh agama miliki pola pikir yang bernuansa sara. banyak tokoh-tokoh agama yang sudah terkenal, di aras nasional, tetapi gampang terpengaruh, terprovokasi, sehingga memprovokasi pula. Ketika lantang berseru-seru: "si Anu, atau Negara Anu berstandard ganda!" dirinya juga berstandard ganda.
Lihat ketika mereka meminta memblokir Faith Fredoom, karena melecehkan agama mereka, mengapa Answering Faith Fredoom tidak diminta di blokir, karena juga melecehkan agama lain, atau Swara Muslim yang juga melecehkan agama lain, tidak diminta di blokir. ini berarti sudah berpola pikir sara, artinya ketika ada golongan lain yang melecehkan agamanya, segera bersikap marah, dan menolak, dll, tetapi ketika ada golongannya yang melakukan pelecehan pada agama lain di biarkan saja. contoh lain adalah mereka menuding orang-orang Kristen melakukan Kristenisasi, dan orang Kristen tidak boleh melakukan penginjilan, tetapi mereka melakukan dakwah yang berarti juga islamisasi.ini standard ganda. orang lain tidak boleh melakukan tetapi mereka boleh bebas melakukan.
Yang menarik pagi-pagi baca berita di Yahoo, MUI lokal daerah tertentu menyerukan untuk tidak menonton film 2012, dan MUI Pusat menyuruh menyensor adegan Masjid roboh, karena dianggap pelecehan terhadap agama, dan menurutnya bernuansa Sara. Nah pendapatnya (Jika Benar Pendapatnya) karena ada masjid yang roboh itu ia katakan bernuansa sara, tetapi gereja vatikan yang roboh, dan tokoh-tokoh agama-agama lain yang yang bergelimpangan, tidak disebut itu juga bernuansa sara. berarti Ia berpola pokir sara. lucu juga pagi-pagi udah denger berita yang aneh begini.
Seruan saya pada tokoh-tokoh agama manapun, Isu sara itu seringkali justru dari Atas, orang-orang kecil sebenarnya gak mempermasalahkan itu. hanya sering mereka sebagai korban provokasi. yang meniupkan angin sara sesungguhnya tokoh-tokoh panutan. jika panutannya seperti itu bagaimana yang menganut?
Thursday, November 19, 2009
Wednesday, November 4, 2009
PRO-KONTRA NATAL
Hari raya terbesar kristiani yang dirayakan paling meriah masa-masa sekarang ini adalah Natal , yaitu hari peringatan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah lahir ke dunia. Terkadang pesta perayaan hari tersebut dilaksanakan dengan meriah oleh bukan saja orang-orang Kristen, tetapi juga orang-orang non Kristen. Negara Malaysia dan Singapura misalnya yang mayoritas penduduknya tidak beragama Kristen mereka menjadikan hari Natal sebagai sebuah hari yang dirayakan secara besar-besaran, karena menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Sementara itu, disisi lain muncul di dalam tubuh kekristenan penolakan terhadap perayaan Natal. Ada dua alasan utama sebagai dasar penolakan mereka. Yaitu:
Yang pertama: perayaan Natal tidak ada dalam Alkitab dan Yesus sendiri tidak pernah memerintahkan agar merayakan hari kelahiran-Nya.
Yang kedua Dengan merayakan hari Natal yang telah ditetapkan pada tanggal 25 Desember bagi mereka sama dengan merayakan penyembahan kepada dewa matahari, karena tanggal 25 Desember sesungguhnya bukan hari kelahiran Yesus, tetapi hari perayaan kelahiran matahari yang dipuja dengan ritual kafir oleh penduduk kota Roma kuno. Ketika Kekaisaran Romawi berhasil dikristenkan, perayaan penyembahan bagi dewa matahari itu diubah untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus Kristus.
Melalui BMM ini penulis mencoba memberikan pendapatnya untuk dikaji bersama.
Jika alasan pertama yaitu tidak tertulis dalam Alkitab dan tidak disuruh oleh Tuhan Yesus maka tidak boleh dilakukan, maka seharusnya setiap hal yang tidak tertulis di Alkitab dan tidak disuruh Yesus juga tidak boleh dilakukan. Misalnya, Yesus tidak pernah secara langsung menyuruh untuk membangun gedung gereja, demikian juga para rasul tidak pernah menulis untuk umat Kristen membangun gedung gereja, jadi masyarakat Kristen tidak boleh membangun gedung gereja. Yang lebih parah lagi Yesus tidak pernah menyuruh untuk mengkanonkan Alkitab demikian juga para rasul, maka kanon Alkitab seharusnya tidak boleh diterima. Rupa-rupanya pembangunan gedung gereja sebagai tempat ibadah merupakan hasil pengembangan budaya yang baik dari gereja, berdasarkan kebutuhan, demikian juga pengkanonan Alkitab. Jadi dengan dasar pemikiran ini, alasan yang pertama tidak memenuhi criteria sebagai dasar penolakan terhadap peryaan Natal
Alasan yang ke dua, yaitu tanggal 25 Desember adalah hari perayaan dewa Matahari, maka jika merayakan Natal sama dengan merayakan dewa matahari penulis menjawab demikian. Ketika kita dipanggil sebagai orang Kristen, kita tidak serta merta dipisahkan dari dunia ini. Justru kita diutus kedunia ini untuk mewarnai dunia dengan pemikiran dan budaya kristiani. Kita tidak dituntut untuk menghancurkan budaya, tetapi memperbaharui budaya.
Budaya bukanlah dosa, juga bukan kudus, tetapi bersifat netral pada hakikatnya. Budaya adalah hasil berpikir dan berikhtiar manusia, yang kemudian menjadi suatu pola kebiasaan yang dilakukan terus menerus. Kemampuan manusia untuk berpikir dan berikhtiar adalah anugerah Tuhan. Hanya saja budaya itu telah tercemar dosa, kita dipanggil untuk memperbaharui budaya tersebut dengan pemikiran kristeni. Contoh praktis yang juga terdapat dalam Alkitab adalah hari Raya Purim. Hari raya ini tidak disebutkan dalam kitab Taurat, tetapi hari raya ini muncul akibat budi daya (kebudayaan) orang-orang Yahudi yang mempertahankan eksistensinya dari genocide yang dirancang oleh Haman(baca Kitab ester).
Kesimpulan dari hal ini, manusia dalam menjalani kehidupan dituntut berpikir dan berusaha. Hasil dari ikhtiar manusia itu menjadi budaya. Demikian juga dengan gereja. Gereja menghasilkan budaya, walaupun tidak semua budaya gereja tetap relevan sepanjang masa, tetapi budaya yang baik perlu dipertahankan. Natal adalah budaya yang baik, dimana merupakan wahana untuk kembali mengingat ketulusan Yesus, kerelaan Yesus yang menderita bagi keselamatan manusia. Peringatan Natal juga merupakan salah satu wahana untuk bersaksi bagi Tuhan.
Kesimpulan dari hal ini adalah meskipun ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan momen Natal untuk sesuatu yang tidak bernilai kekal, tetapi peringatan Natal secara hakikinya memiliki faedah keimanan yaitu suatu momen bagi kita umat Kristiani untuk mengingat Juru Selamat kita. Mungkin ada orang yang berkata “saya setiap hari mengingat akan ketulusan Yesus yang rela datang ke dunia dengan misi penyelamatan kita.” penulis setuju dengan hal ini, tetapi mengingat manusia terbatas, terkadang alpa, maka diperlukan alat bantu untuk mengingat kembali. Perlu ada suatu momen khusus untuk menolong kita kembali menghayati secara lebih dalam Kristus Tuhan kita.
Namun demikian, meskipun penulis setuju dengan perayaan Natal, penulis juga berkesimpulan adalah tidak bijaksana jika Natal menonjolkan budaya konsumerisme dan hedonisme, apalagi ditengah-tengah masyarakat bangsa kita yang sedang prihatin.
Monday, November 2, 2009
STT SETIA
STT SETIA
Nasibmu Kini
Setelah terkatung-katung atas ketidakadilan di negeri sendiri. oleh karena ada segelintir manusia berjubah agama, sehingga merasa berhak memberangus martabat manusia lain, yang berbeda keyakinan. dan anehnya tidak ada aparat dari yang terkecil hingga tertinggi yang memperjuangkannya, dari RT hingga Presiden. tidak ada sedikitpun janji-janji kampanye yang menyebutkan kata SETIA, seakan-akan SETIA tidak ada artinya lagi di bumi ini.
apa kejahatan yang dilakukan SETIA sehingga tempatnya diberi garis Polisi. bukankan mereka yang menyerang yang semestinya terusir dari bumi pertiwi. Apakah negeri ini hanya milik sekelompok agama? apakah hanya 1 agama yang boleh menjadi tuan atas negeri ini, sementara agama-agama yang lain harus tertunduk bersimpuh memohon belas kasihan tuan penguasa?
Apa begitu besar dosa SETIA sampai ia harus terusir dari tanah miliknya sendiri yang sah dibelinya dengan uang yang bukan curian atau hasil korupsi?
bagaimana perasaan Anda jika itu terjadi pada Saudara Anda?
bagaaimana perasaan Anda jika itu terjadi pada agama Anda?
sementara penjahat yang sesungguhnya yang memaksakan kehendak dengan kekerasan berjubah agama melenggang lenggok dengan pongahnya karena tidak ada kuasa yang sanggup untuk menjamahnya. tidak ada aparat yang cukup bergigi untuk berani menyentuh jubah yang maha suci yang mereka tiap hari puja dan puji. ah ya bukankah SETIA berdekatan dengan Markas angkatan bersenjata? yang tugasnya melindungi warga? pada kemana mereka?
"STT SETIA sudah meresahkan warga" kata mereka. tetapi lihat bung, dulu tempat itu adalah tempat sepi yang tidak ada orang yang meminati. STT SETIA lah yang menggeliatkan ekonomi, sehingga dari desa yang sepi menjadi ramai dikunjungi. bukankah STT SETIA lebih dahulu ada disana dari pada sebagian besar warga?
lalu siapa yang mengganggu siapa?
OK SETIA mau mengalah, dan berniat untuk pindah. tetapi hingga kini janji-janji tidak juga kunjung ditepati. dengan mulut manis membujuk agar SETIA mengalah dan pindah. nanti akan diganti dengan tempat yang lebih baik katanya, tetapi mana? janji itu hanya angin lalu berbau busuk yang segera tersebar hilang tertiup angin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
