Tuesday, April 14, 2009

KASUS DALAM SEPOTONG ROTI

judul di atas sesungguhnya plesetan sebuah film yang bernuansa rohani yang di tayangkan pada hari malam Paskah. mengapa saya plesetkan demikian?
karena jelas bahwa artis-artis kita tidak peka terhadap kebudayaan bangsa ini, sehingga ketika membuat film yang bernuansa rohani, menggunakan lagu-lagu rohani, tetapi menampilkan pakaian yang tidak selayaknya diterima dalam budaya masyarakat Indonesia. bagi masyarakat kristen pun sangat risih, apa lagi bagi masyarakat yang lain.
sangat disayangkan ketika saat ini tayangan-tanyangan yang bernuansa Rohani (Kristen) sudah semakin jarang, ketika ada, tidak mampu menjadi berkat tetapi menjadi cemoohan. mengapa saya katakan demikian?
Kasih pemeran utama film ini menampilkan pakaian yang tidak selayaknya diterima masyarakat Indonesia. masyarakat artis mungkin saja, tetapi masyarakat Indonesia, sangat tidak menerimanya. kasih dalam film ini mengenakan busana yang sangat minim, mempertontonkan keseksiannya, kadang-kadang juga menggunakan kata-kata yang memaki-maki secara kasar seperti gila, de, el, el. sayang sekali antara tema yang diusung dengan gaya penampilan yang dibawakan sangat tidak sejalan.
mestinya film-film rohani mengenakan busana yang lebih santun, sesuai dengan budaya ketimuran. ditengah maraknya kampanye anti pornographi dan pornoaksi, seharusnya artis-artis Kristen peka terhadap perubahan zaman, dan menjadi berkat ditengah-tengah budaya masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
produser-produser film Kristen bukan mencari untung, artis-artis Kristen bukan hanya mencari duit, tetapi melayani. pantaskah melayani kristus dengan busana yang sangat minim, dan disaksikan jutaan pemirsa di Indonesia?
kesaksian isi cerita dengan busana yang duikenakan tidak sejalan sehingga tidak membawa pengaruh positif. saya m,enghimbau pada artis-artis kristen, dan produser-produser yang mengangkat tema-tema Kristen, dan semestinya tidak perlu mengenakan simbol-simbol Kekristenan seperti salib, lagu-lagu rohani, dan lain-lain, jika tidak mampumenampilkan tontonan yang sopan, mengedepankan Kristus, bukan kebaikan manusia, buat saja secara humanis, jangan bawa-bawa filosofi Kristen, karena alih-alih menjadi berkat, malahan menjadi cemoohan.

Saturday, April 4, 2009

Politik Kristiani

Partai Kristiani


Semua orang Kristen tahu bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menjadi garam dan terang dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika berbicara menjadi garam dan terang dalam berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali adalah dalam dunia politik. Akan tetapi sangat disayangkan hingga saat ini gereja sepertinya alergi dengan partai-partai kistiani. Hal ini terlihat dengan sedikitnya orang-orang Kristen yang mendukung adanya partai kristiani. Kenyataan ini terlihat dalam pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh gereja. Tetapi secara malu-malu gereja sering menyatakan dukungannya kepada sebuah partai yang menunjukkan sikap politiknya seperti contoh PGI yang secara terselubung memberikan dukungan kepada Golkar di era Orde Baru.

Terkadang orang Kristen lupa, bahwa mengusahakan dan mensejahterakan dunia ini atau yang lebih familier disebut dengan mandat budaya adalah juga mandat yang diterima dari Allah. Jalur politik adalah salah satu jalur yang relevan untuk saat ini sebagai upaya memperbaiki bangsa ini, dan merupakan wujud ketaatan kristiani untuk memenuhi mandat budaya. Akan tetapi hingga kini sepertinya orang-orang Kristen menganggap politik itu adalah tempat kotor yang akan menodai jubah kesuciannya. Bukankah tempat yang gelap itu membutuhkan sang penerang, dan obor dari Sang Penerang bukankah telah di estafetkan kepada gereja? Bukankah tempat yang penuh dengan kebusukan perlu garam yang menghentikan pembusukan, dan bukankah garam itu adalah gereja yang mesti masuk, melebur dalam tempat yang penuh kebusukan itu.

Bukan maksud saya untuk menyeret gereja dalam politik praktis, kemudian organisasi gereja membuat partai politik, maksud saya ialah harus ada sebuah partai kristiani yang didukung oleh gereja yang membawa suara gereja di tengah-tengah bangsa ini. Kita semua tahu bahwa bangsa ini sedang sakit, sakit dalam segala bidang, termasuk dalam dunia politik, karena itu orang-orang percaya perlu bekerja keras memulihkan bangsa ini. Ketika kita berdoa untuk pemulihan negri ini, kita juga harus siap berkata “ini aku utuslah aku” termasuk ketika kita berdoa agar Tuhan memulihkan kondisi perpolitikan bangsa ini, perlu ada orang-orang seperti Nehemia, yang berkata “utuslah aku!” ketika kondisi perpolitikan bangsa ini sedang rusak, Tuhan juga kan menuntut anak-anaknya yang hanya berpangku tangan saja, atau cari aman sendiri.

Selama ini gereja merasa sudah cukup puas berkiprah dalam dunia gerejawi (rohani) saja, atau sosial (bakti social), dan menitipkan perjuangannya pada partai-partai lain. Memang banyak partai yang di dalamnya ada orang-orang Kristen, tetapi mereka tidak membawa suara kekristenan, mereka tidak membawa mandat dari gereja (misioechlesiae), mereka membawa ideology partai. Jika suara mereka tidak sesuai dengan keinginan partai, bisa saja di recall. Ibarat kata gereja lebih senang menumpang di dalam kendaraan orang, yang tidak bisa dikemudikannya sendiri. Alangkah baiknya jika gereja memiliki kendaraan yang dapat dikemudikannya ke arah yang dikehendaki Allah. Partai Kristiani (bukan partai gereja, tetapi partai yang membawa nafas kekristenan) adalah sebuah partai yang dikemudikan oleh generasi-generasi gereja yang handal, beriman dan berkarakter Kristen.

Memang akan ada bahaya besar jika gereja juga ambil bagian secara langsung dalam dunia politik, dan ini sering menjadi momok yang menakutkan bagi pemimpin-pemimpin gereja. Bahaya besar atau ketakutan besar pertama adalah terseretnya gereja dalam euphoria duniawi mengingat tantangan kesuksesan, harta, dan seks sangat besar dalam kancah perpolitikan. Alih-alih menjadi garam dan terang, kader-kader parai bisa-bisa dikamhirkan oleh ragi “Herodian, Farisi, dan Saduki”. Oleh karena itu gereja harus mampu menempatkan kader-kader yang militan dalam iman, namun kontekstual dalam tindakan. Ketakutan besar kedua adalah tergeneralisasinya antara gereja dengan kepentingan politik. Gereja Barat telah membuktikan bahwa, ketika kepentingan kekuasaan tidak bisa dibedakan dengan kepentingan rohani, gereja menjadi sekuler. Bahaya kedua ini akan membawa dalam bahaya ketiga, yaitu, ketika berhadapan dengan rifal-rifal yang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan partai politik kristiani, ditakutkan akan menyeret gereja dalam permasalahan, sehingga kehilangan kenyamanan beribadah.

Bahaya-bahaya itu memang sangat masuk akal ketika gereja menyatakan dukungan terhadap partai politik. Tetapi gereja tidak akan mampu menjadi agen perubahan jika tidak mau mengambil resiko, dan rela memikul salib. Disamping alasan-alasan yang bersifat luas ini juga ada alasan-alasan yang bersifat praktis, antara lain:

  1. Kalau ada warga jemaat yang berbeda aliran politiknya nanti akan tersingkir dan terkucilkan. Ini tidak benar, ajaran gereja sudah terbentuk untuk saling mengasihi tanpa deskriminasi. Justru dalam hal ini akan menunjukkan kekuatan gereja yang mampu menghargai perbedaan sikap politik warganya, dan menjadi alat peraga yang hidup bagi agama-agama lain bagaimana bisa saling mengasihi meskipun berbeda sikap politik.

  2. Gereja mestinya mengurusi hal-hal rohani saja, bukan hal-hal duniawi. Paham ini dikarenakan adanya pemikiran dikotomis antara duniawi dan rohani. Duniawi dan rohani mestinya tidak dilihat secara dikotomis parsial, tetapi mestinya dilihat dalam keterhububungan, dan kesinambungan yang saling mempengaruhi. Rohaniwan tetapi sekaligus warga Negara yang memiliki hak dan kewajiban membangun bangsa. Dua posisi yang berbeda, namun memiliki keterkaitan yang erat.

  3. gereja jangan berpolitik praktis, tetapi menyiapkan kader-kader yang bisa menduduki posisi penting dalam partai-partai nasionalis. Sebenarnya jika jujur, menyiapkan kader itu sudah berpolitik praktis, hanya secara halus dan tidak terlihat (supaya aman). Yohanes berkata “dalam kasih tidak ada ketakutan”. Ingat partai-partai nasionalis itu sudah memiliki plat form tersendiri, dan ideology tersendiri. Gereja tidak berhak membina kader-kader partai nasionalis, (terbukti tidak pernah ada pembinaan rohani dalam partai-partai nasionalis manapun bagi kader Kristen), maka kader-kader itu tidak pernah merasa bahwa ia mewakili gereja untuk duduk dalam kepartaian. Maka tidak heran banyak anggota legislative Kristen, tetapi korupsi masih berjalan terus. Keberadaan kekristenan di dalam legislasi tidak membawa impact moral yang berarti, lebih-lebih ketika anggota legislative Kristen pun ikut andil dalam korupsi. Tidak ada kader yagn mendapat sangsi dari gereja karena kkn.

Tulisan ini sekali lagi bukan merupakan anjuran bagi gereja untuk berpolitik praktis, karena bagi saya gereja sudah berpolitik praktis. Tulisan ini dimaksudkan memberi masukan untuk gereja berpolitik praktis secara bagaimana? Memang tidak perlu mengidentifikasikan gereja dengan salah satu partai tertentu, tetapi memberikan dukungan, memantau, mengingatkan, membina pada partai politik kristiani merupakan langkah yang bijak sebagai wujud tanggung jawab gereja dalam menyuarakan kebenaran dalam dunia politik.