Tuesday, March 24, 2009

gereja dan politik

pada saat ini, banyak Partai-partai Kristen yang bermunculan. partai-partai tersebut membawa simbol-simbol (pemikiran-pemikiran) Kekristenan ke dalam dunia politik. dengan bermunculan partai-partai Kristen ini, reaksi beragam diberikan oleh gereja. ada yang bersikap menolak, ada yang bersikap mendukung, ada yang bersikap akan mendukung atau menolaknya tergantung dari perkembangan partai, ada yang tidak peduli.

sikap gereja-gereja protestan umumnya menolak dengan adanya partai-partai Kristen ini. alasannya, gereja bukan partai politik, dan tidak boleh berpolitik. lebih lanjut dikatakan bahwa buktinya partai-partai Kristen yang pernah ada tidak menjadi berkat, penuh perpecahan, tidak bersuara lantang, dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran negatif terhadap partai bernafaskan kekristenan. mayoritas pemimpin-pemimpin gereja menolak adanya partai-partai Kristen.
secara pribadi saya mengkritisi sikap gereja seperti ini. alasan saya:
1. Adanya partai politik bernafaskan kristen bukan berarti membawa organisasi gereja terjun dalam politik praktis. kita harus bisa membedakan antara orang kristen sebagai anggota gereja, dengan orang kristen sebagai warga negara, yang memiliki hak untuk berpolitik, berserikat dan berkumpul.
2. Ketakutan nanti jika ada anggota gereja yang memiliki sikap politik yang berbeda akan dikucilkan. ini tidak benar, justru lewat perbedaan sikap politik ini, gereja memiliki kesempatan untuk mengajarkan demokrasi, meskipun berbeda aliran politik tetapi tetap satu sebagai anggota tubuh Kristus.
3. Jika bukan orang Kristen sendiri yang memperjuangkan kepentingannya, jangan harap orang lain akan memperjuangkan kepentingan Kekristen sebagai warga negara.

selama ini kita hanya puas dengan menitipkan aspirasi kita kepada partai-partai lain. selayaknya kita bangkit dan berpikir positif terhaap partai Kristen, sebagai kendaraan sendiri untuk memperjuangkan keadilan dan aspirasi kita sebagai wujud darma baikti kita pada bangsa ini. jika slama ini ada partai Kristen yang pecah, tidak menjadi berkat, hal itu menurut saya merupakan dinamika kehidupan kepartaian. kelemahannya kita perbaiki, bukan sekedar melempar penghakiman, sementara kita sendiri tidak mau terjun untuk memperbaiki.

No comments:

Post a Comment