Monday, October 26, 2009

Injil Barnabas

Bukti-bukti Kepalsuan Injil Barnabas
Sebuah buku yang disebut sebagai Injil Barnabas sering digunakan sebagai referensi oleh beberapa orang untuk menyerang kekristenan. Terutama beberapa golongan muslim menganggap Injil ini lebih otentik ketimbang kitab Injil yang diterima oleh gereja. Alasan beberapa golongan ini dikarenakan isi di dalamnya sangat mendukung Alquran. Akan tetapi tidak semua muslim sepakat dalam hal ini, karena banyak juga golongan muslim yang menolak keaslian injil ini, karena di dalamnya ada juga bagian-bagian yang bertentangan dengan Alquran. Berikut ini bukti-bukti kepalsuan Injil Barnabas.

1.      Kontradiksi mengenai gelar Mesias.
Pada bagian pendahuluan tertulis demikian:
INJIL YANG BENAR TENTANG YESUS YANG BERGELAR KRISTUS, SEORANG NABI BARU YANG DIUTUS ALLAH KE DUNIA: MENURUT URAIAN BARNABAS, RASULNYA.
Barnabas, rasul Yesus orang Nazaret yang bergelar Kristus, beramanat kepada segenap umat, yang berbenah di persada bumi menginginkan kedamaian serta penghiburan.

Pada bagian in menyebutkan secara jelas bahwa Yesus bergelar Kristus yang merupakan terjemahan bahasa Yunani dari kata Mesias bahasa Arami, yang artinya Yang diurapi. Namun kemudian gelar ini  disangkalnya sendiri di pasal 96. "Demi Allah, pada diri-Nya, jiwaku berdiri, bahwa Aku bukanlah Mesias itu"
tampak jelas bahwa penulis Injil Barnabas ini tidak mengenal bahasa Yunani maupun Ibrani (arami). Kristus adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani/arami Mesias (Mesiakh). Sungguh sangat aneh jika Barnabas mengakui Yesus adalah Kristus, tetapi menolak Yesus adalah Mesias. Apalagi kedua bahasa ini merupakan bahasa percakapan sehari-hari yang digunakan di zaman Yesus.

2.      Kontradiksi dalam hal sumpah.
Dalam tradisi Yahudi, terlebih lagi dalam tradisi imam, seseorang tidak akan mudah bersumpah mengatas namakan Allah. Pada masa itu ada ketakutan yang luar biasa dalam diri orang Yahudi untuk mengucapkan kata Allah, apa lagi bersumpah. Dalam sepanjang kitab-kitab PB, tidak ada sumpah mengenai ajaran seperti ini. Demikian juga dalam kitab-kitab apokripha, model sumpah seperti ini belum dikenal sama sekali. Ayat sumpah ini malahan mirip dengan modelnya nabi Muhamad bersumpah dalam mengajarkan agamanya. Oleh karena itu, dapat disimpulka bahwa penulis ini lebih dipengaruhi budaya nabi Muhamad daripada budaya yang berkembang pada masa itu.

3.      Kesalahan dalam Tradisi Yahudi Pasal 152
"Injil" ini menceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke Bait Allah di Yerusalem dan para militer Romawi datang masuk ke rumah ibadah itu untuk mengganggu Dia.
agama Yahudi melarang orang kafir untuk masuk ke bait Allah. Termasuk orang-orang Romawi. Untuk menjaga agar tidak terjadi pemberontakan terhadap Romawi, maka orang-orang Romawi menghargai kebijakan ini, sehingga mereka tidak akan masuk ke dalam Bait Allah. Di Bait Allah memiliki penjaga tersendiri yang disebut dengan penjaga Bait Allah. Jadi kalau sampai ada orang romawi masuk bait Allah, apalagi sampai menggangu ibadahnya orang Yahudi, bisa terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap Romawi. Hal ini terjadi terhadap kekuasaan Yunani era wangsa Makabe. Tentara Romawi masuk, dan menghancurkan bait Allah, kemudian mempersembahkan persembahan berhala baru terjadi pada tahun 70 masehi, 40 tahun setelah Yesus disalib. Peristiwa ini terjadi setelah orang-orang  Yahudi yang melancarkan pemberotakan lebih dahulu. Penghancuran bait Allah orlah tentara Romawi di bawah Jenderal Titus ini untuk menghilangkan rasa symbol Nasionalisme Yahudi, sehingga dikemudian hari mereka tidak memberontak lagi. Peristiwa ini jauh-jauh hari sudah dinubuatkan oleh kitab Injil.
Hal ini membuktikan bahwa penulis Injil ini tidak tahu sejarah, dan tidak mengenal peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pelayanan Tuhan Yesus.


4.      Kesalahan dalam Tradisi Yahudi dan Sejarah. pasal 144-150.
Pasal ini menceritakan orang farisi hidup membiara, tidak kawin, ayat ini juga mengatakan bahwa orang farisi sudah ada sejak zaman nabi elia, dan berjumlah 17.000. Rupa-rupanya disamping tidak menguasai sejarah Yahudi penulis Injil Barnabas juga tidak menguasai Alkitab. Jadi kemungkinan penulis Barnabas hanya mengenal sedikit-sedikit tentang kekristenan.
Fakta sejarah mengatakan bahwa orang farisi tidak hidup membiara, bahkan untuk menjadi orang farisi dia harus kawin. Golongan Yahudi yang hidup mirip dengan kehidupan biara adalah orang-orang eseni. Rupa-rupanya penulis Injil Barnabas ini terkecoh antara orang Farisi dengan orang Esseni, jika Injil Barnabas benar ada di abad 1 dan ditulis oleh Rasul Barnabas, maka tidak mungkin ia akan terkecoh seperti ini, karena Barnabas adalah orang Lewi.
Dalam hubungannya dengan Elia, rupa-rupanya ia dikacaukan dengan 7000 orang-orang yang setia terhadap Allah dan tidak mau menyembah Baal. 7000 orang ini adalah orang yang secara tersembunyi tetap memuja Allah Israel.Jumlahnya bukan 17000, tetapi 7000. sedangkan Farisi adalah sekte Yahudi yang muncul pada abad kedua sebelum masehi. Yaitu sekitar 200 tahun setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan. Sebagai reaksi atas kompromi yang banyak dikerjakan oleh orang Israel lain dalam kekuasaan Yunani. Pada masa itu tidak ada nabi, karena Tuhan tidak lagi menyampaikan firmanNya. Sedangkan Elia hidup pada abad 8 sebelum masehi. Sehingga antara Elia dan farisi terpaut jarak 6 abad.
Tulisan ini merupakan bukti betapa simpang siurnya data penulis Injil Barnabas. Ia tidak tahu sejarah Yahudi sama sekali.

5.      Kesalahan Sejarah. Pasal 3
Pasal 3 menyebutkan kelahiran Yesus adalah pada masa pemerintahan Pontius Pilatus yang menjabat sebagai wali negeri atau gubernur Yudea.
Fakta sejarah mengatakan bahwa, Pilatus menjadi wali negeri pada tahun 29 Masehi. Sementara Yudea menjadi propinsi tersendiri pada abad 6 masehi. Yesus lahir pada abad 4 SM. Yudea masih di bawah propinsi Siria dengan gubernurnya Kirinius sejarah membuktikan bahwa memang benar sekitar tahun itu ia menjadi wali negeri Siria. Membuktikan bahwa penulis Injl Barnabas tidak mengenal peristiwa sejarah pada zaman Yesus, dan tidak mengenal Perjanjian Baru, sedangkan Injil secara akurat menjelskan fakta-fakta sejarah.Pilatus tidak berkuasa pada zaman Yesus lahir, melainkan zaman Yesus disalibkan.

6.      Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 20.
Pasal ini menyebutkan: “Maka pergilah Yesus ke laut Galilea, dan turunlah ia ke dalam sebuah perahu untuk berlayar ke Nazaret, kotanya (Yesus went to the sea of Galilee and having embarked in a ship sailed to his city of Nazareth); Dalam pada itu terjadilah taufan besar di laut sehingga nyaris menenggelamkan perahu tersebut.”

Ayat ini merupakan lelucon pemalsuan yang sangat ceroboh. Nazareth adalah dataran tinggi, sehingga tidak ada lautnya. Jadi tidak mungkin naik perahu ke Nazareth. Sedangkan Danau Galilea, jaraknya 20 KM dengan Nazaret. Tidak mungkin Murid Yesus yang asli tidak tahu hal ini. Oleh karena itu penulis Injil Barnabas dipastikan tidak tahu menahu keadaan geografis Palestina.

7.      Kesalahan mengenai geografi Palestina kuno. Pasal 21 :
Pasal ini menyebutkan: ”Mendakilah Yesus ke Kapernaum, seraya pula ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kubur-kubur itu, kerasukan setan dan tidak ada satu rantai pun yang mengikatnya karena parahnya sehingga menyebabkan bahaya bagi banyak orang. Maka menjeritlah Setan-setan dari mulutnya, katanya :"Ya Kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita ?"

Paswal ini adalah kelanjutan dari pasal sebelumnya. Jadi ayat ini mengisahkan bahwa setelah berlayar dari danau galilea ke Nazareth, kemudian Yesus mendaki ke Kapernaum. Faktanya Kapernaum adalah kota pantai yang lebih rendah dari nazareht. Mestinya turunlah Yesus ke kapernaum bukan mendaki. Danau galilea juga sering disebut dengan danau kapernaum. Ini artinya penulis Injil Barnabas tidak mengetahui keadaan geografis Israel. Tidak mungkin rasul Yesus yang hilir mudik di kapernaum dan nasaret tidak tahu hal ini.

8.      Injil Barnabas berisi dongeng-dongeng yang tidak masuk akal.
Dongeng itu antara lain manusia memiliki puser itu dikarenakan diludahi setan. Ada sembilan tingkatan langit, dan Yesus yang berdoa agar setan diampuni dosanya. Ini nampaknya sejajar dengan dongeng dalam Islam yang mengatakan bahwa buah kuldi yang dimakan Adam berhenti ditenggorokan maka menjadi jakun, sedang yang dimakan Hawa berhenti di dada, maka menjadi payudara.

9.      Kekacauan antara sejarah Yahudi dengan sejarah gereja mengenai Tahun Yobel.
Pasal 82 menyebutkan: Sesudah sembahyang malam murid-murid datang mendekat kepada Yesus, kemudian Yeus bersabda: "Malam ini tepat waktunya bagi Messias, Pesuruh Allah itu, akan menjadikan tahun Yobel dirayakan tiap-tiap tahun, yang sekarang ini jatuh pada setiap 100 tahun" ("This night shall be the time of Messiah, messenger of God, the Jubilee every year that now cometh hundredyear")
Tahun Yobel adalah hari perayaan ibrani setiap 50 tahun sekali. Yaitu suatu tahun dimana terjadi pembebasan para budak, tahun pembebasan tanah yang digadaikan.
Penetapan tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun sekali merupakan penetapan yang baru ada pada masa Paus Bonifacius VIII (1300), Tetapi setelah itu mengalami beberapa penetapan tahun yang berbeda, mulai dari Paus Clement VI (1340) menetapkan setiap 50 tahun sekali, dan Paus Paulus II (1470) menetapkan setiap 25 tahun sekali, barulah Paus Sixtus V (1585-1590) kembali menetapkan tahun Yobel setiap 100 tahun sekali, sekaligus memperingati pengangkatannya sebagai paus.


10.  Kontradiksi Injil Barnabas dengan Alquran.
a.       Barnabas menyebut dirinya rasul Yesus Kristus. Dalam tradisi Islam, rasul juga adalah nabi, tetapi nabi belum tentu rasul. Manusia tidak memiliki rasul, tetapi hanya Allah yang memiliki rasul. Oleh karena itu, ketika Barnabas mengaku bahwa ia rasul Kristus, menandakan bahwa hal itu bertentangan dengan Alquran. Padahal setiap orang muslim percaya bahwa ajaran Yesus yang asli (Injil) tidak bertentangan dengan Alquran. Ini berarti penulis kitab Barnabas ini adalah orang Islam yang baru saja bertobat, sehingga tidak mengenal betul ajaran islam.
b.      Barnabas menyebutkan bahwa tingkat langit ada sembilan. Sementara Alquran menyebutkan bahwa tingkat langit ada tujuh
c.       Kitab Barnabas menyetakan bahwa Mariam tidak mengalami sakit bersalin ketika melahirkan Yesus, sementara Alquran mengatakan bahwa Mariam mengalami sakti bersalin yang luar biasa ketika akan melahirkan Isa.
d.      Quran mengatakan mengakui gelar Isa sebagai Almasih (Mesias), sedangkan Injil Barnabas tidak mengakui Isa sebagai Mesias, malahan mengatakan bahwa Muhamad itulah Mesias.
e.       Injil Barnabas menolak poligami (pasal 116) sedangkan Alquran menerima poligami.
f.       Injil Barnabas pasal 137 mengakui adanya api penyucian dimana orang yang dineraka jika telah memenuhi siksaan akan masuk kesurga sedangkan Alquran menolak adanya api penyucian. Orang yang sudah dineraka tidak akan mendapatkan pengampunan.
Ole karena itu umat islam yang mengetahui benar tentang Injil Barnabas menolak keaslian Injil ini. Seperti dikutip dalam ensiklopedi Islam  oleh Herlianto Yayasan Bina Awam
"Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan .... Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu." Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: "Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan "al-Masi'ah" yang Islam tidak membenarkannya. Selain ia merupakan pemikiran yang asing dalam sejarah kekeramatan, gaya bahasanya cenderung mengejek Injil, sebagaimana tulisan-tulisan Baha' al-Allah terhadap al-Quran." (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.53).


Kesimpulan
Penulis Injil Barnabas sesungguhnya tidak mengenal betul kekristenan maupun Islam yang sesungguhnya. Meskipun kemungkinan besar dapat dipastikan bahwa ia orang Islam, tetapi ia tidak mengerti ajaran Islam yang sesungguhnya.
Penulis Injil Barnabas tidak hidup pada zaman Yesus, dan bukan murid Yesus yang tinggal di Palestina, hal itu terbukti dia tidak mengenal geografi palestina, dan sejarah Palestina pada masa itu.
Menerima Injil Barnabas sebagai ajaran Yesus yang sesungguhnya berarti bukan saja menolak kebenaran Kitab Injil Perjanjian Baru, tetapi juga menolak kebenaran Alquran. Hal ini dibuktikan bahwa banyak ulama-ulama dan cerdik-cendekia muslim yang menolak Injil Barnabas.


Sumber-sumber:

Injil Barnabas Suatu Kesaksian palsu, A.Q Jazin Libanon.
Injil Barnabas, Herlianto, M.Th. Yayasan Bina Awam
Injil Barnabas, Bambang Nursena.

Sunday, October 11, 2009


Miyabi 
Bebarapa tokoh agama dan tokoh DPR beramai-ramai menentang kedatangan Miyabi ke Indonesia. Hal ini dikarenakan Miyabi adalah bintang film Porno dari Jepang. Meskipun ke Indonesia dia tidak main film porno, tetapi images/stigma yang dibawa takutnya mencemari moral bangsa.
Secara teoritis saya sangat setuju dengan hal itu. Kita mesti menolak Miyabi main film di Indonesia, karena dengan demikian akan meningkatkan popularitasnya, film-filmnya yang bisa dilihat di Internet, bisa-bisa banyak yang melihatnya. Hanya saja cara-caranya para tokoh agama, alim ulama, dan wakil rakyat  ini yang tidak saya setuju. Mereka dengan mengerahkan masa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, karena akan merusak moral bangsa. Bukankah dengan cara itu Miyabi semakin popular. Kita bisa menolak kedatangan Miyabi ke Indonesia, tapi tidak bisa menolak Miyabi datang kerumah-rumah orang Indonesia lewat Internet, dan HP para remaja. Dengan kehebohan penolakkan itu banyak yang tidak tahu menjadi tahu. Yang tidak tertarik menjadi tertarik. Saya yang sering internetan saja, tidak tahu menahu tentang Miyabi, jadinya tahu, dan iseng-iseng mencari nama Miyabi di Google Search.
Tidak bisakah penolakan itu dengan cara diplomasi atau negosiasi. Tidak adakah ahli diplomasi atau negosiasi dikalangan ulama sehingga harus mengerahkan masa? Tidak adakah cara lain selain mengerahkan masa? Saya pikir cara berpolitik yang baik adalah mengedepankan perundingan, negosiasi, pencerahan, dari pada politik Infantilisme, yaitu pengerahan masa. Maaf bukan berarti saya tidak menghormati mereka sebagai tokoh agama dan panutan rakyat. Saya setuju dengan sikap mereka akan penolakan kedatangan Miyabi ke Indonesia untuk main film, tetapi cara-cara pengerahan masa yang menghebohkan yang biasanya dicemari dengan sedikit tindak kekerasan, justru menyebabkan nama Miyabi makin melejit. Saya jadi kuatir anak-anak remaja dan SD yang tidak tahu apa-apa malah membuka-buka situs Miyabi, karena di populerkan oleh para tokoh agama. Setelah kejadian itu, Siapa sekarang yang dapat mencegah kedatangan Miyabi ke Indonesia, bahkan bertamu dirumah-rumah, warnet-warnet, atau HP genggam anak-anak remaja?
Keberhasilan dan Kegagalan Pendidikan Kristen
Berbicara tentang keberhasilan atau kegagalan pendidikan Kristen seringkali dikaitkan dengan keberhasilan akademis peserta didik. Artinya jika peserta didik berhasil lulus 100% atau sekolah-sekolah Kristen tetap eksis dan diminati banyak orang maka sekolah Kristen dianggap berhasil. Atau memiliki banyak alumni yang berhasil menjadi orang yang “berhasil” sekolah itu dikatakan berhasil. Konsep berpikir ini sesungguhnya salah, tetapi sudah umum diterima oleh masyrakat Kristen, dan pengelola pendidikan Kristen. Mereka cukup merasa berbangga hati jika peserta didik sukses secara akademik, mereka merasa berhasil mendidik karena output yang mereka hasilkan “berkualitas.”
Pengukuran keberhasilan pendidikan Kristen tidak pernah dikaitkan dengan visi pendirian pendidikan Kristen. Padahal Visi merupakan tujuan didirikannya pendidikan Kristen itu. Keberhasilan mestinya diukur dari apakah tujuan pendirian pendidikan Kristen tercapai atau tidak. Kalau tercapai, seberapa besar? Jika tujuannya untuk menciptakan peserta didik memiliki prestasi akademis unggul, ya mestinya keberhasilan dalam bidang akademik itu yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan. Tetapi jika sebuah lembaga Kristen tujuannya hanya sesempit ini, maka tidak ada bedanya dengan pendidikan non Kristen, karena tidak ada korelasi yang tegas antara lebel Kristen dengan tujuan pendirian lembaga pendidikan. Tetapi, jika pendiriannya membawa visi-misi Kristen, maka, visi-misi Kristen itu yang menjadi alat ukur keberhasilan pendidikan, bukan kepada prestasi akademis. Jadi evaluasi institusi mestinya dikaitkan dengan visi-misi yang menjadi tujuan pendirian lembaga pendidikan Kristen.
Visi diterjemahkan dari  tujuan pendidikan. Misi diterjemahkan dari visi pendidikan ke dalam proses pendidikan atau diimplementasikan dalam filosofi pendidikan, Kurikulum pendidikan, strategi pendidikan, media pendidikan, dan evaluasi, dan managemen pendidikan untuk menjamin bahwa output memiliki kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari pendirian lembaga  pendidikan Kristen. Hal ini dapat dirangkum dengan pernyataan dibawah ini:
Visi=      Tujuan Pendidikan
Misi=     Sarana untuk mencapai Visi.
                Misi diimplementasikan dalam Proses belajar mengajar (Filosofi pendidikan, Kurikulum, strategi, media, dan evaluasi pembelajaran, manajemen pendidikan).

Berdasarkan dari hal tersebut di atas, maka seharusnya ada kaitan erat antara visi sekolah dengan kurikulum sekolah. Tetapi faktanya, tidak banyak sekolah yang mengintegrasikan visi ke dalam proses belajar mengajar. Sehingga seakan-akan visi hanya penghias tembok sekolah saja. Atau untuk “patut-patut” saja. Visi ini yang menjadi alat ukur bahwa pendidikan Kristen berhasil atau tidak. Misalnya jika Vision Statement Pendidikan Kristen adalah Melaksanakan amanat agung melalui dunia pendidikan, maka amanat agung itu harus diimplementasikan dalam proses pendidikan, dan yang menjadi alat ukur keberhasilan itu adalah berapa orang yang mengenal Kristus dan dimenangkan melalui pendidikan.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak pendidikan yang menamakan diri sebagai pendidikkan Kristen tetapi sesungguhnya tidak membawa misi Kristen. Banyak pendidikan Kristen yang justru membawa misi kapitalisme, membawa misi Industri, yaitu indutri pendidikan, misi profitisasi pendidikan (mencari keuntungan ekonomi sebesar-besarnya lewat bisnis pendidikan atau komersialisasi pendidikan), yang sesungguhnya semua itu bertentangan dengan visi-misi Kekristenan. Lebih baik secara jujur pendidikan yang seperti ini memisahkan diri dari gereja, dan meninggalkan lebel pendidikan Kristen. Keberpihakan kepada ketertindasan yang menjadi visi misi kekristenan tidak tampak dalam kiprah lembaga-lembaga ini. Mereka berupaya terus eksis dalam persaingan global tetapi bukan demi visi-misi pendidikan Kristen, tetapi demi urusan perut dan dapur. Anehnya gereja-gereja tidak bersikap Kritis terhadap hal ini, dan merestui industrialisasi pendidikan berpayung gereja, komersialisasi berpayung pelayanan.
Akhirnya apakah pendidikan Kristen berhasil atau gagal? Jelas banyak yang gagal dari berhasil.

Heboh Miyabi

Keberhasilan dan Kegagalan Pendidikan Kristen
Berbicara tentang keberhasilan atau kegagalan pendidikan Kristen seringkali dikaitkan dengan keberhasilan akademis peserta didik. Artinya jika peserta didik berhasil lulus 100% atau sekolah-sekolah Kristen tetap eksis dan diminati banyak orang maka sekolah Kristen dianggap berhasil. Atau memiliki banyak alumni yang berhasil menjadi orang yang “berhasil” sekolah itu dikatakan berhasil. Konsep berpikir ini sesungguhnya salah, tetapi sudah umum diterima oleh masyrakat Kristen, dan pengelola pendidikan Kristen. Mereka cukup merasa berbangga hati jika peserta didik sukses secara akademik, mereka merasa berhasil mendidik karena output yang mereka hasilkan “berkualitas.”
Pengukuran keberhasilan pendidikan Kristen tidak pernah dikaitkan dengan visi pendirian pendidikan Kristen. Padahal Visi merupakan tujuan didirikannya pendidikan Kristen itu. Keberhasilan mestinya diukur dari apakah tujuan pendirian pendidikan Kristen tercapai atau tidak. Kalau tercapai, seberapa besar? Jika tujuannya untuk menciptakan peserta didik memiliki prestasi akademis unggul, ya mestinya keberhasilan dalam bidang akademik itu yang menjadi ukuran keberhasilan pendidikan. Tetapi jika sebuah lembaga Kristen tujuannya hanya sesempit ini, maka tidak ada bedanya dengan pendidikan non Kristen, karena tidak ada korelasi yang tegas antara lebel Kristen dengan tujuan pendirian lembaga pendidikan. Tetapi, jika pendiriannya membawa visi-misi Kristen, maka, visi-misi Kristen itu yang menjadi alat ukur keberhasilan pendidikan, bukan kepada prestasi akademis. Jadi evaluasi institusi mestinya dikaitkan dengan visi-misi yang menjadi tujuan pendirian lembaga pendidikan Kristen.
Visi diterjemahkan dari  tujuan pendidikan. Misi diterjemahkan dari visi pendidikan ke dalam proses pendidikan atau diimplementasikan dalam filosofi pendidikan, Kurikulum pendidikan, strategi pendidikan, media pendidikan, dan evaluasi, dan managemen pendidikan untuk menjamin bahwa output memiliki kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari pendirian lembaga  pendidikan Kristen. Hal ini dapat dirangkum dengan pernyataan dibawah ini:
Visi=      Tujuan Pendidikan
Misi=     Sarana untuk mencapai Visi.
                Misi diimplementasikan dalam Proses belajar mengajar (Filosofi pendidikan, Kurikulum, strategi, media, dan evaluasi pembelajaran, manajemen pendidikan).

Berdasarkan dari hal tersebut di atas, maka seharusnya ada kaitan erat antara visi sekolah dengan kurikulum sekolah. Tetapi faktanya, tidak banyak sekolah yang mengintegrasikan visi ke dalam proses belajar mengajar. Sehingga seakan-akan visi hanya penghias tembok sekolah saja. Atau untuk “patut-patut” saja. Visi ini yang menjadi alat ukur bahwa pendidikan Kristen berhasil atau tidak. Misalnya jika Vision Statement Pendidikan Kristen adalah Melaksanakan amanat agung melalui dunia pendidikan, maka amanat agung itu harus diimplementasikan dalam proses pendidikan, dan yang menjadi alat ukur keberhasilan itu adalah berapa orang yang mengenal Kristus dan dimenangkan melalui pendidikan.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak pendidikan yang menamakan diri sebagai pendidikkan Kristen tetapi sesungguhnya tidak membawa misi Kristen. Banyak pendidikan Kristen yang justru membawa misi kapitalisme, membawa misi Industri, yaitu indutri pendidikan, misi profitisasi pendidikan (mencari keuntungan ekonomi sebesar-besarnya lewat bisnis pendidikan atau komersialisasi pendidikan), yang sesungguhnya semua itu bertentangan dengan visi-misi Kekristenan. Lebih baik secara jujur pendidikan yang seperti ini memisahkan diri dari gereja, dan meninggalkan lebel pendidikan Kristen. Keberpihakan kepada ketertindasan yang menjadi visi misi kekristenan tidak tampak dalam kiprah lembaga-lembaga ini. Mereka berupaya terus eksis dalam persaingan global tetapi bukan demi visi-misi pendidikan Kristen, tetapi demi urusan perut dan dapur. Anehnya gereja-gereja tidak bersikap Kritis terhadap hal ini, dan merestui industrialisasi pendidikan berpayung gereja, komersialisasi berpayung pelayanan.
Akhirnya apakah pendidikan Kristen berhasil atau gagal? Jelas banyak yang gagal dari berhasil.

Saturday, October 10, 2009

Pendeta Mualaf

Hari-hari menjelang lebaran adalah hari menjaga hati agar kembali fitri. hari-hari membuang hal-hal yang menimbulkan percideraan dan perpecahan bangsa.
namu sontak saya kaget ketika acara dua stasiun TV swasta yaitu TV One dan Trans 7 mewawancarai para mantan Kristen, yang jadi mualaf. ada yang dari luar negeri, ada yang anak pendeta. dll. tayangan ini sungguh menyakitkan hati umat Kristen. bahkan acara Tukul arwana bukan empat mata sampai dua kali melakukan hal ini.
Beranikah TV One dan Trans 7 melakukan hal yang sama dengan agama Islam? mengundang dan mewawancarai mantan ustadz yang jadi Kristen? atau Kyai yang jadi Kristen? hal ini perlu agar berita berimbang, bahwa tidak hanya ada tokoh agama Kristen saja yang pindah ke Islam. ada juga sebaliknya. bisa juga agama-agama lain. jika ada pihak Islam yang pindah Kristen dan bersaksi untuk kalangan gereja saja umat Islam sudah sakit hati. terlebih lagi apa yang sudah dilakukan TV One dan Trans 7 jauh menyinggung umat Kristen, karena mereka bersaksi tentang kemualafan mereka di forum umum, bukan kalangan sendiri.