Wednesday, March 18, 2009

QUO VADIS GKJ?

Sabtu 17 Januari 2009 saya menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan GKJ Purwokerta atau yang lebih dikenal GKJ Bayangkara. Pembicaranya adalah orang-orang yang terkenal di Indonesia yaitu Prof Franz Magnis Suseno, SJ, dan Pdt. Emiritus Kadarmanto, Ph.D. tema yang dibawakan adalah berjalan bersama dalam arak-arakan gerejawi.

Yang menyentak bagi saya adalah pemikiran Pdt. Emiritus Kadarmanto, Ph.D., yang merupakan juga Ketua Umum Gereja-Gereja Kristen Jawa. Dia tidak setuju dengan misi penginjilan dengan mengangap penginjilan itu tujuannya tidak jelas, menangkan jiwa dari mana, untuk apa, mengapa, demikian katanya. Dia lebih jauh mengatakan bahwa penginjilan hanya sekedar mencari teman senasib sebanyak-banyaknya (golek bolo). Lebih jauh ia mengatakan bahwa orang yang baik meskipun bukan Kristen, tidak percaya Yesus juga pasti masuk sorga.

Kemudian dia juga mengkritisi misi tri tugas gereja yang menyebutkan pelayanan, kesaksian dan persekutuan. Menurutnya misi gereja adalah rekonsiliasi, atau pelayanan pendamaian. Namun pelayanan pendamaian yang dia maksud bukanlah pendamaian antara Allah dan manusia yang berdosa lewat darah Yesus seperti yang dimaksud oleh Paulus, melainkan pendamaian antar agama, pendamaian antara masyarakat, pendamaian antar suku agama, dan ras, dan lain-lain.

Dari pernyataannya ini memunculkan pemikiran dalam diri saya:

  1. Tokoh sekaliber Kadarmanto, yang merupakan pemimpin gereja aras nasional bisa memiliki pemikiran sedemikian itu merupakan pemikirannya sendiri atau mewakili pemikiran gerejanya mengingat acara tersebut adalah acara resmi gerejawi

  2. Jika mewakili pemikiran gerejanya, yaitu GKJ, Qouvadis GKJ? GKJ tidak layak lagi disebut sebagai gereja beraliran Calvinis. Beliau juga adalah juga Ketua Umum GKJ.

  3. apakah pemikirannya juga mewakili STT Jakarta mengingat beliau adalah dosen di STT Jakarta.

  4. Jika GKJ tidak setuju dengan pemikiran Beliau mestinya memberikan pembinaan lagi untuk membetulkan doktrinnya. STT Jakarta mestinya juga memikirkan ulang menjadikan beliau sebagai pengajar di sana. Jika tidak maka ada kecurigaan bahwa pada umumnya pemimpin-pemimpin GKJ dan STT Jakarta memang setuju dengan pendapat ini.

  5. ada schedule apa yang dirancang GKJ Purwokerto, sehingga membuat acara dan mengundang pembicara dengan menghabiskan biaya yang Jutaan rupiah karena acara ini terbuka untuk umum dan mengundang pendeta-pendeta denominasi lain hanya untuk mengatakan bahwa keselamatan tidak hanya ada di dalam Yesus, atau tanpa Yesus pun ada keselamatan.

No comments:

Post a Comment